Irigasi Gumbasa Ditutup Sebulan, Petani Sigi Khawatir Padi Gagal Panen
Rencana penutupan aliran air Irigasi Gumbasa mulai 15 Agustus hingga 15 September 2026 menuai kekhawatiran dari sejumlah petani di Kabupaten Sigi. Mereka mengaku masih memiliki tanaman padi yang membutuhkan pasokan air dan berisiko terdampak apabila aliran dihentikan selama satu bulan.
Ketua Forum Petani Merah Putih, Imran Latjedi, mengatakan berdasarkan data yang diterimanya, sekitar 20 hektare lahan di wilayah Biromaru masih terancam terdampak penutupan aliran. Kondisi serupa, menurut dia, juga terdapat di wilayah Sigi Kota dan sebagian Kecamatan Tanambulava.
Imran menegaskan keterlambatan sebagian petani melakukan penanaman bukan karena sengaja mengabaikan ketentuan jadwal tanam. Ia menyebut keterbatasan alat dan sarana pengolahan lahan yang harus digunakan secara bergantian menjadi salah satu kendala.
“Bukan petani tidak mengindahkan edaran. Tetapi saat musim tanam, alat garap masih banyak yang terpakai. Jadi ada petani yang baru bisa mengolah dan menanam setelah alat tersedia,” kata Imran kepada media ini, Senin (10/8/2026).
Menurut Imran, petani memahami kebutuhan penutupan aliran untuk mendukung pekerjaan dan penataan sistem irigasi. Namun, ia meminta kondisi tanaman yang sudah terlanjur ditanam turut menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan kebijakan tersebut.
Ia bahkan menyebut sebagian petani tetap menanam meski mengetahui adanya rencana penutupan air karena hasil panen menjadi salah satu sumber kebutuhan hidup mereka.
“Kami tahu air akan ditutup. Tapi kalau kami tidak menanam, apa yang bisa kami panen musim ini? Kami juga butuh makan,” ujar Imran, mengutip keluhan petani.
Imran meminta Pemerintah Kabupaten Sigi berkoordinasi dengan pihak pengairan dan Balai Wilayah Sungai (BWS) untuk mencari solusi yang dapat mengurangi potensi kerugian petani.
Menurutnya, penutupan aliran tetap dapat dilaksanakan sesuai agenda pekerjaan. Namun, ia mengusulkan adanya mekanisme pengaliran air secara berkala apabila secara teknis memungkinkan.
Salah satu opsi yang disampaikan adalah membuka aliran setiap tujuh atau sepuluh hari selama sekitar dua hari untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman sebelum kembali dilakukan penutupan.
“Tidak masalah air tetap ditutup sesuai agenda. Tetapi kalau memungkinkan, ada kebijakan dari pihak pengairan atau BWS, misalnya setiap tujuh atau sepuluh hari air dibuka selama dua hari untuk menyelamatkan tanaman petani,” jelasnya.
Imran menilai persoalan tersebut tidak seharusnya berakhir pada saling menyalahkan antara petani dan pengelola irigasi. Menurut dia, kepentingan utama adalah memastikan pekerjaan irigasi tetap berjalan sekaligus meminimalkan dampak terhadap tanaman masyarakat.
“Kita jangan saling menyalahkan. Yang paling penting sekarang bagaimana mencari solusi terbaik, supaya pekerjaan tetap berjalan dan tanaman petani juga bisa diselamatkan,” tandasnya.
Reporter : Agus
Penyunting : W13D
Kategori : Ekonomi
Lokasi : Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber : Wawancara
Editor : Redaksi