Cetak Sawah Baru Dolago Dipertanyakan, Janji Bantuan Alsintan Tak Kunjung Terwujud
Pelaksanaan Program Cetak Sawah Baru di Dusun III, Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, mendapat sorotan setelah kelompok tani penerima program mengaku belum memperoleh sejumlah bantuan sarana produksi yang sebelumnya disebut akan ditanggung pemerintah.
Sorotan tersebut disampaikan Ketua DPW Pro Garda Indonesia Bersatu Sulawesi Tengah, Enos Buntu Karaeng, setelah melakukan peninjauan dan menemui Ketua Kelompok Tani Mekar Tani, Nasir, pada 15 Agustus 2026.
Program Cetak Sawah Baru merupakan salah satu program strategis pemerintah pusat dalam memperkuat ketahanan pangan dan mendorong swasembada pangan nasional. Dalam pelaksanaannya, pemerintah menyiapkan berbagai dukungan, antara lain benih, pupuk, alat dan mesin pertanian (Alsintan), serta infrastruktur pendukung seperti irigasi.
Menurut Nasir, saat awal pembentukan program Cetak Sawah Baru, kelompok tani mengikuti rapat yang turut menghadirkan pihak Kementerian Pertanian dan Dinas Pertanian. Dalam rapat tersebut, petani disebut mendapatkan penjelasan bahwa kebutuhan program, termasuk benih, pupuk dan Alsintan, akan mendapatkan dukungan pemerintah selama tiga tahun.
Nasir membenarkan bahwa pada tahap awal hingga panen pertama, kebutuhan program masih mendapatkan dukungan dan pengawasan dari dinas terkait.
Namun, memasuki musim tanam kedua, kondisi disebut berubah. Saat usia tanaman padi sekitar satu bulan, kelompok tani mengaku harus mengusahakan sendiri biaya pengolahan lahan menggunakan traktor, pengadaan benih hingga proses penanaman.
“Yang dijanjikan itu belum kami dapatkan, terutama Alsintan,” kata Nasir sebagaimana disampaikan kepada Enos.
Menindaklanjuti keterangan tersebut, Enos kemudian menghubungi petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Parigi Selatan melalui WhatsApp untuk meminta penjelasan mengenai bantuan yang belum diterima Kelompok Tani Mekar Tani.
PPL yang dihubungi menyatakan dirinya merupakan pejabat yang meneruskan tugas dari PPL sebelumnya yang telah diangkat sebagai PPPK. Karena itu, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti mengenai janji bantuan yang disampaikan pada awal program.
Keterangan berbeda disampaikan Kepala UPTD TPHP Parigi Selatan, Ramadhan Firman, SST. Dalam pesan WhatsApp yang diterima Enos, Ramadhan menyebut informasi yang diketahuinya berkaitan dengan ketentuan luasan areal.
“Setahu saya kalau mencapai 200 hektare cetak sawah baru, baru bisa mendapatkan hak Alsintan,” demikian keterangan Ramadhan.
Ia juga menyebut sebelumnya telah membentuk kelompok Brigade Pangan untuk mengelola Alsintan bantuan. Namun, menurutnya, kelompok tersebut tidak berjalan sesuai harapan karena diduga berkaitan dengan persoalan persyaratan luasan areal.
Ramadhan juga menyatakan terdapat bantuan sekitar 20 unit Alsintan berupa traktor roda empat (TR4) dan combine harvester. Namun, ia mengaku tidak mengetahui secara rinci siapa saja penerima atau pengguna seluruh Alsintan tersebut.
“Setahu saya ada 20 unit Alsintan turun berupa TR4 dan combine (panen), tetapi saya tidak tahu siapa semua yang mendapatkan,” ujarnya.
Terkait mekanisme pemanfaatan Alsintan, Ramadhan mengatakan TR4 atau alat pertanian lainnya bukan diberikan langsung kepada kelompok tani, melainkan dikelola atau dipinjamkan kepada pihak tertentu. Ia mengaku belum mengetahui secara pasti apakah alat tersebut digunakan operator atau pemilik lahan.
Sementara terkait benih dan pupuk, Ramadhan membenarkan bahwa dalam rapat bersama pemilik lahan pernah disampaikan adanya dukungan pemerintah berupa pupuk dan benih padi. Namun, mengenai realisasi bantuan tersebut, ia menyebut pihak yang paling mengetahui adalah dinas dan pemerintah pusat melalui Kementerian Pertanian.
“Yang paling tahu apakah mendapatkan atau tidak adalah dinas dan pemerintah pusat, kementerian,” katanya.
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Kabupaten Parigi Moutong, Dadan Priatna Jaya, S.Hut, yang juga menjabat Sekretaris Dinas TPHP, belum memberikan penjelasan substantif.
Saat dikonfirmasi wartawan melalui WhatsApp pada Minggu, 16 Agustus 2026, Dadan mengatakan dirinya baru kembali dari Jakarta setelah mengikuti rapat koordinasi terkait program Cetak Sawah Baru.
“Saya baru sampai dari Jakarta, rakor terkait cetak sawah. Ini di jalan menuju Parigi. Nanti Selasa kalau bisa ke kantor, biar lebih komprehensif penjelasan karena mau rapat internal dulu terkait hasil rakor untuk segera ditindaklanjuti,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi ruang klarifikasi bagi Dinas TPHP Parigi Moutong untuk menjelaskan secara terbuka mekanisme penyaluran bantuan Cetak Sawah Baru, termasuk dasar pemberian Alsintan, jumlah unit yang telah disalurkan, penerima atau pengelolanya, serta realisasi bantuan benih dan pupuk bagi Kelompok Tani Mekar Tani.
Enos menegaskan, pihaknya melakukan pengawasan bukan untuk menghambat program pemerintah, melainkan memastikan program strategis nasional tersebut benar-benar memberikan manfaat kepada petani sesuai ketentuan.
Menurutnya, apabila sejak awal petani mendapat informasi bahwa kebutuhan produksi ditanggung pemerintah, maka perlu ada kejelasan mengenai bentuk, mekanisme, durasi, serta realisasi bantuan tersebut agar tidak menimbulkan kebingungan di tingkat kelompok tani.
Dugaan adanya ketidaksesuaian penyaluran bantuan belum merupakan kesimpulan mengenai pelanggaran. Konfirmasi dan penjelasan lebih lanjut dari instansi berwenang tetap diperlukan untuk memastikan fakta, mekanisme penyaluran, serta pihak yang bertanggung jawab atas pengelolaan bantuan Alsintan.
Reporter : Asri
Penyunting : W13D
Kategori : Daerah
Lokasi : Parigimoutong, Sulawesi Tengah
Sumber : Investigasi
Editor : Redaksi