Program Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) yang dibiayai APBN 2025 melalui BWSS III Palu mulai dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Desa Kamonji, Kecamatan Balaesang Tanjung, Kabupaten Donggala.
Program yang menyasar sektor pertanian ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan air yang selama ini menjadi kendala utama petani dalam mengelola lahan.
Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Dua Perkara di Banggai
Kepala Desa Kamonji, Yusman, menyampaikan bahwa kehadiran JIAT memberikan dampak langsung bagi masyarakat, khususnya petani yang sebelumnya kesulitan mengakses air saat musim kemarau.
“Program ini sangat membantu. Banyak lahan sebelumnya tidak diolah karena kekurangan air, sekarang mulai bisa dimanfaatkan,” ujarnya, Selasa (31/3/2026).
Ia menambahkan, air dari sumur JIAT diharapkan dapat digunakan secara optimal untuk mendukung musim tanam padi dalam waktu dekat.
Baca juga: Kades Malalan Klarifikasi Keterlambatan BLT Tahap I 2026, Penyaluran Tuntas ke 8 KPM
Senada, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Kamonji, Linda Evan, menilai pemanfaatan air tanah melalui program ini mampu meningkatkan efisiensi pengairan, baik untuk sawah maupun komoditas hortikultura.
“Dengan adanya JIAT, pengairan jadi lebih terjamin. Ini tentu berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan mendukung swasembada pangan,” jelasnya.
Saat ini, luas lahan persawahan di Desa Kamonji tercatat sekitar 8 hektare. Dengan hadirnya program JIAT, potensi pembukaan lahan baru dinilai semakin terbuka.
Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban
Pemerintah desa dan masyarakat berharap program tersebut dapat berkelanjutan serta dimaksimalkan untuk meningkatkan produktivitas pertanian di wilayah tersebut.
Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Ekonomi
Lokasi: Donggala, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara
Editor : Redaksi