Revitalisasi Sekolah Tolitoli Belum Merata, 14 Sekolah Tunggu Dana
TOLITOLI || Program revitalisasi satuan pendidikan jenjang SD dan SMP di Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah, mulai berjalan. Namun, realisasinya masih terbatas dibandingkan kuota yang dialokasikan pemerintah pusat.
Kepala Bidang Pembinaan Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Tolitoli, Takdir Nurdin, S.Sos., M.M., mengatakan dari kuota 49 SD dan 15 SMP, baru 13 SD dan enam SMP yang terealisasi dan sementara dikerjakan.
“Untuk jenjang SD, yang berjalan terdiri atas 11 reguler, satu aspirasi, dan satu melalui tanggap bencana. Sementara SMP, dari kuota 15 sekolah, baru enam yang terealisasi,” ujar Takdir, Senin (2/11/2026).
Menurutnya, revitalisasi tersebut meliputi pembangunan gedung baru, rehabilitasi bangunan, serta penataan lingkungan sekolah, termasuk pagar, halaman, gerbang, dan fasilitas sanitasi.
Takdir mengungkapkan, masih terdapat sekitar 14 sekolah yang telah mengikuti bimbingan teknis (bimtek), tetapi belum dapat melanjutkan pekerjaan karena masih menunggu proses pencairan dana.
Ia berharap program revitalisasi dapat berkelanjutan. Bahkan, berdasarkan gambaran awal dari kementerian melalui pemutakhiran data pokok pendidikan (Dapodik), terdapat 112 sekolah di Tolitoli yang berpotensi memperoleh bantuan pada 2027.
“Namun, kami belum mengetahui berapa kuota yang nantinya diberikan khusus untuk Kabupaten Tolitoli,” jelasnya.
Di luar revitalisasi fisik, Dinas Pendidikan juga mengusulkan pemenuhan kebutuhan mebel sekolah, terutama meja dan kursi. Lebih dari 100 sekolah telah dihitung kebutuhannya untuk diupayakan melalui anggaran daerah.
“Melalui DAU, kami lebih fokus pada kebutuhan mebel. Program pusat dan daerah kami sinkronkan, sehingga sekolah yang menerima rehabilitasi tetapi belum dilengkapi meja dan kursi dapat dianggarkan sesuai kebutuhan,” katanya.
Selain infrastruktur dan fasilitas belajar, pemerintah daerah juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) tenaga pendidik melalui pelatihan dan bimbingan teknis penggunaan Papan Interaktif Digital (PID).
Langkah tersebut diharapkan mampu mendorong transformasi metode pembelajaran di ruang kelas, sehingga bantuan pemerintah tidak hanya berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga berdampak terhadap kualitas pendidikan.
Redaksi mencatat, tantangan berikutnya bukan sekadar memastikan program revitalisasi berjalan, melainkan juga mengawal pencairan anggaran, pemerataan penerima manfaat, serta kesesuaian fasilitas yang dibangun dengan kebutuhan riil sekolah.
Reporter : Agus
Penyunting : W13D
Kategori : Pendidikan
Sumber : Wawancara
Editor : Redaksi