"Berani Cerdas", Tapi Siswa Masih Belajar di Sekolah Nyaris Roboh
Di saat slogan pemerataan pendidikan terus digaungkan, ironi justru berdiri tegak di Dusun V, Desa Ogomojolo, Kecamatan Palasa. Di sana, sebanyak 132 siswa SDN Kecil Ogomojolo masih menimba ilmu di bangunan sekolah yang retak, lapuk, miring, dan disebut rawan roboh.
Bukan sehari atau setahun. Kondisi itu telah berlangsung selama bertahun-tahun. Bahkan, setiap angin kencang datang, kegiatan belajar mengajar terpaksa dihentikan. Murid-murid dievakuasi keluar kelas karena kekhawatiran bangunan ambruk sewaktu-waktu.
Kepala SDN Kecil Ogomojolo, Rahmat S.Pd, kepada awak media, Senin (3/8/2026), membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, bangunan papan yang masih digunakan merupakan peninggalan sejak sekolah berdiri, sementara gedung bantuan tahun 2009 dan 2012 kini juga mengalami kerusakan berat.
"Kami sudah berkali-kali mengusulkan revitalisasi. Nama sekolah sudah beberapa kali muncul dalam sistem, tetapi selalu gagal terealisasi. Tahun 2025 kembali masuk program revitalisasi, namun sampai sekarang belum ada kepastian. Yang kami takutkan bukan soal bangunan rusak, tetapi keselamatan anak-anak ketika belajar," ujar Rahmat.
Ia menegaskan, setiap kali angin bertiup kencang, para siswa terpaksa keluar dari ruang kelas demi menghindari kemungkinan terburuk.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Parigimoutong, Ibrahim S.E., M.A.P, membenarkan bangunan sekolah memang mengalami kerusakan berat. Ia menjelaskan, pada masa program Dana Alokasi Khusus (DAK), sekolah belum memenuhi syarat jumlah minimal peserta didik sehingga belum dapat memperoleh bantuan.
Namun setelah kebijakan pemerintah pusat berubah, program revitalisasi kini dibiayai melalui APBN tanpa lagi mensyaratkan jumlah siswa.
"SDN Kecil Ogomojolo sudah masuk program revitalisasi 2025–2026. Kami berharap dalam waktu dekat dapat direalisasikan. Keselamatan siswa menjadi perhatian kami dan akan segera dilakukan koordinasi dengan pihak sekolah," kata Ibrahim, Selasa (4/8/2026).
Potret SDN Kecil Ogomojolo menjadi cermin bahwa pemerataan pendidikan belum sepenuhnya menyentuh ruang-ruang kelas di daerah terpencil. Di atas kertas, pendidikan menjadi prioritas. Di lapangan, anak-anak masih belajar di bawah atap yang sewaktu-waktu dapat mengancam keselamatan mereka.
Kondisi ini sekaligus menjadi ujian bagi visi Pemerintah Kabupaten Parigimoutong, "Parigimoutong Maju, Mandiri, Berkelanjutan melalui Gerbang Desa," yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas. Demikian pula dengan semangat "Berani Cerdas" Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah, yang diharapkan tidak berhenti sebagai slogan, tetapi hadir dalam bentuk ruang belajar yang aman, layak, dan bermartabat bagi setiap anak, tanpa membedakan apakah mereka belajar di kota atau di pelosok.
Sebab, ukuran kemajuan pendidikan bukanlah banyaknya pidato atau dokumen perencanaan yang disusun, melainkan seberapa cepat pemerintah mampu memastikan tidak ada lagi anak yang harus belajar sambil mengkhawatirkan atap runtuh di atas kepalanya. Pendidikan semestinya melahirkan harapan, bukan rasa takut setiap kali angin bertiup.
Reporter : Enos / Asri
Penyunting : W13D
Kategori : Pendidikan
Lokasi : Parigimoutong, Sulawesi Tengah
Sumber : Investigasi
Editor : Redaksi