Revitalisasi SD Kecil Ogolau Rp1,93 Miliar Dikebut

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
On progres revitalisasi SD Kecil Ogolau (foto : asri_beritaformat)
On progres revitalisasi SD Kecil Ogolau (foto : asri_beritaformat)

PARIGI MOUTONG || Sekolah Dasar (SD) Kecil Ogolau di Desa Tibu, Kecamatan Tinombo, Kabupaten Parigi Moutong (Parimo), mendapat program revitalisasi sekolah melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebesar Rp1.937.725.688 yang disalurkan melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kepala SD Kecil Ogolau, Rahmat Kaiwi, S.Pd.SD, menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan Dinas Pendidikan yang telah mengusulkan sekolah tersebut sehingga memperoleh program revitalisasi.

“Kami selaku kepala sekolah tentu sangat berterima kasih kepada pemerintah. Bantuan ini merupakan hasil kerja keras Dinas Pendidikan yang telah mengusulkan ke kementerian,” kata Rahmat.

Menurutnya, pelaksanaan revitalisasi di sekolah yang berada di wilayah terpencil memiliki tantangan tersendiri, terutama terkait keterbatasan logistik dan kondisi medan menuju lokasi.

Karena itu, pelaksanaan pembangunan dilakukan melalui mekanisme swakelola dengan melibatkan masyarakat, sebagai upaya mendukung kelancaran pekerjaan dan pencapaian target pembangunan.

“Kami berupaya menjalankan mekanisme swakelola dan melibatkan masyarakat agar pembangunan revitalisasi sekolah dapat mencapai 100 persen dan hasilnya lebih baik,” ujarnya. Rabu (12/9/2026).

Rahmat berharap program revitalisasi tidak hanya menghasilkan pembangunan fisik sekolah, tetapi juga menciptakan lingkungan belajar yang lebih aman, nyaman dan layak bagi peserta didik maupun tenaga pendidik.

“Program revitalisasi merupakan program besar yang dinantikan setiap kepala sekolah. Harapan kami pembangunan fisik maupun nonfisik dapat terealisasi dengan baik sehingga menciptakan kenyamanan dalam proses belajar mengajar,” katanya.

Sementara itu, salah seorang guru SD Kecil Ogolau, Sukardin, S.Pd., mengatakan program revitalisasi menjadi kabar menggembirakan bagi para guru yang selama ini mengabdikan diri di sekolah tersebut.

Namun, kondisi akses menuju sekolah masih menjadi tantangan tersendiri. Menurut Sukardin, jarak sekolah sekitar empat kilometer dari jalan trans dengan kondisi jalan yang berada di kawasan pegunungan dan memiliki banyak tikungan tajam.

“Jalannya baru terbentuk badan jalan. Kalau hujan, terkadang kami para guru mengalami kesulitan untuk menuju sekolah. Tetapi itu bukan kendala bagi kami. Bentuk pengabdian tetap kami tempuh karena tujuan utama kami agar anak-anak dapat menempuh pendidikan,” kata Sukardin.

Ia menilai hadirnya revitalisasi memberikan kebanggaan tersendiri bagi guru dan masyarakat karena diharapkan mampu meningkatkan keamanan dan kenyamanan kegiatan belajar mengajar.

Sukardin juga mengapresiasi Panitia Pembangunan Satuan Pendidikan (P2SP) yang menurutnya telah menjalankan tanggung jawab dalam pelaksanaan pembangunan.

“Kami berterima kasih kepada P2SP yang betul-betul bekerja dan melaksanakan tanggung jawab sebagai panitia pembangunan. Walaupun progresnya saat ini baru sekitar 25 persen,” ujarnya.

Program revitalisasi tersebut diharapkan dapat menjawab kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan di wilayah terpencil sekaligus memberikan ruang belajar yang lebih layak bagi anak-anak Desa Tibu.

Dengan mekanisme swakelola dan keterlibatan masyarakat, pelaksanaan pembangunan kini menjadi perhatian bersama agar setiap tahapan pekerjaan berjalan sesuai ketentuan dan memberikan manfaat maksimal bagi peserta didik.

Reporter : Asri
Penyunting : W13D
Kategori : Pendidikan
Sumber : Liputan