MOJOKERTO || Petani di Desa Sambiroto, Kecamatan Sooko, Kabupaten Mojokerto, mulai menerapkan sistem PMAAS (Pertanian Modern Advance Agrikultur Sistem) untuk meningkatkan produktivitas padi. Melalui metode tanam benih langsung atau tabela dan pemanfaatan alat pertanian hasil modifikasi, sistem ini ditargetkan mampu menghasilkan hingga 10 ton padi per hektare.
Kegiatan penanaman yang berlangsung pada Kamis (29/10/2026) tersebut menjadi salah satu upaya mendorong modernisasi pertanian, terutama dalam menghadapi keterbatasan tenaga kerja dan kebutuhan menekan biaya operasional.
Baca juga: BK Rp850 Juta untuk Desa Pekuwon, Fokus TPT dan Jalan Lingkungan
Koordinator Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kecamatan Sooko, Nur Saifuddin, mengatakan penerapan PMAAS diharapkan dapat meningkatkan hasil produksi padi sekaligus mendorong kesejahteraan petani.
“Penerapan sistem ini diharapkan mampu meningkatkan produksi padi, khususnya di Kecamatan Sooko, dengan target hasil mencapai 10 ton per hektare,” ungkap Nur Saifuddin.
Ia menjelaskan, dalam kegiatan tersebut petani memperoleh bantuan benih sebanyak 70 kilogram per hektare dari pemerintah. Penanaman dilakukan menggunakan metode tabela, yakni benih ditanam langsung di lahan tanpa melalui proses persemaian dan pemindahan bibit seperti pada metode tanam pindah.
Menurutnya, dukungan teknologi pertanian yang disesuaikan dengan kebutuhan lapangan diharapkan dapat membantu petani meningkatkan efisiensi budidaya dan hasil panen.
“Harapannya, petani semakin sejahtera dan makmur,” tambahnya.
Sementara itu, Budi, Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sri Rejeki 1, menilai penggunaan alat yang dimodifikasi sendiri oleh petani menjadi solusi untuk mempercepat proses penanaman.
Baca juga: Mojokerto Mencekam! 40 Pemotor Diduga Serang Tiga Angkringan
Menurut Budi, keterbatasan tenaga kerja menjadi salah satu kendala yang dihadapi petani. Karena itu, pemanfaatan alat pertanian dinilai dapat membantu mempercepat pekerjaan sekaligus menekan biaya operasional.
“Dengan adanya alat yang dimodifikasi sendiri oleh petani, waktu tanam bisa lebih efisien. Saat ini tenaga kerja untuk menanam cukup sulit didapatkan, sehingga penggunaan alat menjadi salah satu solusi untuk menekan biaya operasional,” jelas Budi.
Meski demikian, ia menyebut alat yang digunakan saat ini masih berstatus pinjam pakai milik Balai Penyuluh Pertanian. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan kelompok tani berencana mengajukan proposal bantuan alat kepada dinas terkait.
“Ke depan, kami akan berusaha mengajukan proposal bantuan kepada dinas terkait agar petani bisa memiliki dukungan peralatan yang memadai,” ujarnya.
Baca juga: Liburan ke Yogya, Pulang Tinggal Nama!
Penerapan PMAAS di Desa Sambiroto diharapkan menjadi langkah awal dalam mendorong pertanian yang lebih efisien dan produktif. Namun, pencapaian target 10 ton per hektare tetap perlu dibuktikan melalui hasil panen serta evaluasi penerapan metode dan teknologi yang digunakan.
Dukungan benih, ketersediaan alat, pendampingan penyuluh, dan kemampuan petani mengelola budidaya menjadi faktor penting agar modernisasi pertanian tidak berhenti pada proses penanaman, tetapi juga memberikan hasil nyata bagi kesejahteraan petani.
Kontributor : Clara
Penyunting : W13D
Kategori : Ekonomi
Sumber : Liputan
Editor : Redaksi