Peredaran narkotika jenis sabu yang diduga kian marak menjadi alarm serius bagi masyarakat. Bukan hanya soal penangkapan pelaku, tetapi tentang masa depan generasi muda yang perlahan terancam oleh barang haram tersebut.
Kegelisahan para orang tua bukan tanpa alasan. Ketika sabu semakin mudah beredar, kekhawatiran terhadap anak-anak ikut meningkat. Mereka takut narkotika tidak hanya merusak kesehatan dan pola pikir, tetapi juga menyeret generasi muda ke dalam persoalan sosial dan kriminalitas.
Baca juga: Revitalisasi SMP Alkhairaat Bajo Berjalan 27 Persen
Di tengah keresahan itu, muncul anggapan bahwa jaringan peredaran sabu semakin terorganisir dan pelakunya semakin sulit disentuh. Jika dugaan tersebut benar, maka persoalannya bukan lagi sekadar tentang pengguna dan pengedar di tingkat bawah, melainkan bagaimana memutus mata rantai peredaran hingga ke aktor yang berada di belakangnya.
Bandar mungkin bersembunyi, tetapi dampaknya terang-terangan. Keresahan masyarakat juga diperparah oleh dugaan munculnya berbagai tindak kriminal yang dikaitkan dengan penyalahgunaan narkotika. Pencurian, konflik sosial, hingga tindak kekerasan dikhawatirkan menjadi efek lanjutan ketika penyalahgunaan narkotika tidak segera ditangani secara serius.
Namun, setiap dugaan keterkaitan antara sabu dan tindak pidana tetap harus dibuktikan melalui proses hukum. Jangan sampai keresahan publik berubah menjadi penghakiman terhadap seseorang tanpa bukti yang sah.
Yang tidak boleh diabaikan adalah anak-anak. Ketika generasi muda mulai kehilangan kendali, sulit dinasihati, menjauh dari keluarga, bahkan berpotensi terlibat dalam tindak pidana, maka yang dipertaruhkan bukan sekadar satu orang, melainkan masa depan keluarga dan masyarakat.
Baca juga: Revitalisasi SMA Negeri 9 Sigi Telan Rp718 Juta, Fasilitas Sekolah Bertahap Dibenahi
Karena itu, masyarakat membutuhkan langkah yang lebih serius dan terukur dari pemerintah bersama aparat penegak hukum. Penindakan terhadap jaringan peredaran narkotika harus berjalan beriringan dengan pencegahan, edukasi, pengawasan lingkungan, perlindungan anak, serta rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika.
Jangan menunggu satu generasi rusak baru kemudian kita bertanya siapa yang bertanggung jawab. Jika sabu terus mengudara sementara pencegahan berjalan tertatih, maka yang paling mahal bukan harga narkotikanya, melainkan masa depan anak-anak yang hilang.
Masyarakat berhak mendapatkan lingkungan yang aman. Para orang tua berhak merasa tenang ketika melepas anak-anak mereka ke sekolah dan lingkungan pergaulan.
Baca juga: Sabu 55 Gram Mendarat di Pekarangan
Negara tidak boleh kalah cepat dari bandar.
Penulis : Redaksi
Penyunting : W13D
Lokasi : Parigimoutong, Sulawesi Tengah
Sumber : Opini Publik
Editor : Redaksi