Rencana penutupan sementara aliran air di Daerah Irigasi (DI) Gumbasa yang semula dijadwalkan pada 15 Agustus 2026 berpotensi diundur. Penyesuaian jadwal akan diputuskan melalui kesepakatan bersama antara petani, penyuluh pertanian, Balai Penyuluhan Pertanian (BPP), dan pengelola irigasi setelah mempertimbangkan kondisi tanaman di lapangan.
Kepala Pengamat DI Gumbasa, Agus Sudiono, mengatakan penutupan aliran irigasi selama satu bulan sebelumnya telah disepakati sebagai langkah menyeragamkan pola tanam. Sesuai rencana awal, air akan kembali dialirkan pada 15 September 2026.
Baca juga: Rp100 Miliar Lebih Digelontorkan, 95 SMA/SMK dan SLB di Sulteng Direvitalisasi
Namun, hasil pemantauan menunjukkan masih banyak tanaman padi yang belum memasuki masa panen. Sebagian bahkan baru berumur sekitar 50 hari hingga dua bulan sehingga dinilai belum memungkinkan apabila aliran air dihentikan sesuai jadwal.
"Saya tidak bisa mengubah jadwal sendiri karena penutupan ini merupakan hasil kesepakatan bersama. Kalau memang perlu diundur satu atau dua minggu, harus dibahas lagi bersama petani dan penyuluh agar menjadi keputusan bersama," kata Agus, Selasa (4/8/2026).
Menurutnya, penutupan sementara irigasi bertujuan menyelaraskan masa tanam dan panen sehingga distribusi air lebih efisien serta pengendalian hama dapat dilakukan secara lebih optimal.
Baca juga: "Berani Cerdas", Tapi Siswa Masih Belajar di Sekolah Nyaris Roboh
Selain itu, masa penutupan juga akan dimanfaatkan untuk melakukan inspeksi dan pemeliharaan jaringan irigasi Gumbasa. Petugas akan memeriksa kemungkinan adanya retakan, kebocoran, maupun sedimentasi yang berpotensi menghambat distribusi air.
"Kalau saluran dalam kondisi kering, pekerjaan pemeliharaan jauh lebih efektif. Kami bisa mengecek seluruh jaringan dan membersihkan sedimentasi maupun memperbaiki bagian yang mengalami kerusakan," ujarnya.
Hingga kini, pengelola DI Gumbasa masih menunggu hasil koordinasi dengan BPP, penyuluh pertanian, dan perwakilan petani. Apabila seluruh pihak menyepakati penundaan, jadwal penutupan irigasi akan disesuaikan melalui keputusan bersama.
Baca juga: PM-AAS Masuk Pesaku, Sigi Pacu Sawah Modern
"Yang terpenting bukan soal cepat atau lambatnya penutupan, tetapi keputusan itu harus disepakati bersama sehingga petani tidak dirugikan dan tujuan menyeragamkan masa panen tetap bisa tercapai," pungkas Agus.
Reporter : Agus
Penyunting : W13D
Kategori : Daerah
Lokasi : Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber : Wawancara
Editor : Redaksi