Hujan Deras Bawa Material Kayu dan Batu, Gerus Rabat Jalan Trans Sulawesi di Talaga

Reporter : Redaksi
Kondisi hujan lebat yang menyebabkan rabat baju jalan amblas tergerus luapan air (foto : agus_beritaformat)

Hujan deras yang mengguyur dan membawa material kayu berikut bebatuan di Desa Talaga, Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala, Sabtu (13/6/2026), menyebabkan luapan air hingga menggerus rabat (trotoar) di ruas Jalan Trans Sulawesi. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran warga karena banjir lumpur dan material sungai kerap mengancam permukiman saat curah hujan tinggi.

Kepala Desa Talaga, Maskar Karama, mengatakan kerusakan terjadi akibat derasnya aliran air dari hulu yang terus mengikis bantaran sungai hingga melebar. Menurutnya, tanah di sekitar rabat masih labil sehingga mudah tergerus saat diterjang hujan.

Baca juga: BUMDes Gunung Sari ‘Menghilang Tanpa Kabar’, Warga Pertanyakan Nasib Modal dan Pengurus

Kondisi rabat beton usai diterjang luapan air yang membawa material kayu dan bebatuan (foto : agus_beritaformat)

"Rabat itu belum seminggu dikerjakan. Karena tanahnya masih labil, bagian pinggir turun setelah dihantam air hujan berikut material yang terbawa arus dari atas sehingga tergerus dan berlubang," kata Maskar kepada media ini, Minggu (14/6/2026).

Ia menilai diperlukan pondasi penahan pada sisi rabat untuk mengurangi risiko amblas saat debit air meningkat. Selain itu, tidak adanya sistem drainase yang memadai menyebabkan aliran air tidak terarah dan memicu longsor di sekitar bahu jalan.

Maskar berharap pemerintah melalui Balai Wilayah Sungai (BWS), Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN), dan BPBD dapat berkolaborasi melakukan penanganan dari wilayah hulu, termasuk pembangunan bronjong, drainase, bak kontrol, serta gorong-gorong berkapasitas besar untuk mengendalikan aliran air dan material sungai.

"Harus ada penanganan serius mulai dari hulunya. Jika tidak, air akan terus meluap ke jalan dan permukiman warga," ujarnya.

Baca juga: Mahasiswa Hukum Soroti Asas Praduga Tak Bersalah dalam Pemberitaan PETI Parimo

Keluhan serupa disampaikan warga Desa Talaga, Amir. Ia menilai konstruksi rabat yang baru dibangun belum mampu menahan dampak luapan air karena tidak dilengkapi pondasi yang memadai.

"Keinginan kami jalan air itu diluruskan ke danau, misalnya dibuatkan plat deker atau jembatan agar air tidak masuk ke rumah warga," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Preservasi Jalan, BPJN Sulteng, Sultoni, menjelaskan bahwa paket pekerjaan yang dilaksanakan hanya mencakup rabat bahu jalan beton FC 20 dan tidak termasuk pembangunan saluran samping maupun pasangan batu.

Baca juga: SPMB SMAN 2 Tolitoli Belum Capai Kuota, Sekolah Bantu Pendaftaran Online Calon Siswa

"Memang tidak ada penanganan saluran samping dalam pekerjaan ini. Yang dikerjakan hanya rabat bahu jalan FC 20 dan volumenya juga sudah melalui addendum. Jadi wajar jika bahu jalan yang dirabat tergerus, namun kerusakan itu tetap akan diperbaiki karena masih dalam masa konstruksi," jelasnya.

Sultoni menambahkan, pekerjaan tersebut masih menjadi tanggung jawab pelaksana selama masa konstruksi berlangsung sehingga perbaikan akan segera dilakukan untuk mengembalikan kondisi rabat yang terdampak luapan air.

Reporter: Agus
Penyunting: W13D
Kategori: Daerah
Lokasi: Donggala, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru