SMPN 3 Kota Mojokerto, Gelar Festival Bulan Bahasa
BERITA MOJOKERTO | Bulan Oktober diperingati sebagai bulan bahasa dan sastra Indonesia sejak tahun 1980, hingga saat ini. Peringatan ini terkait sebuah peristiwa penting, yakni Sumpah Pemuda, dimana para pemuda mengakui bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan yang mengikat keberagaman bangsa Indonesia sebagai bangsa yang satu.
Sumpah Pemuda berisikan pengakuan akan 'Satu Bangsa yaitu Bangsa Indonesia', 'Satu Tanah Air yaitu Tanah Air Indonesia', dan 'Satu Bahasa yaitu Bahasa Indonesia'. Atas dasar ikrar Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 tersebut, maka bulan Oktober juga diperingati sebagai Bulan Bahasa dan Sastra.
Untuk memperingati Bulan Bahasa tahun 2023, SMPN 3 Kota Mojokerto mengadakan 'Festival Bulan Bahasa dan Peringatan Sumpah Pemuda' yang di helat di aula dan halaman sekolah.
Menurut Kepala Sekolah SMPN 3 Rejo S.Pd.,M.Pd., peringatan bulan bahasa yang dilaksanakan sejak (23/10), di awali dengan kegiatan pelatihan literasi dengan mengundang media ternama di Jawa Timur. Hal tersebut disampaikannya saat ditemui awak media di puncak peringatan Bulan Bahasa dan Sumpah Pemuda. Jum'at, (27/10/2023).
"Sebenarnya, peringatan bulan bahasa dan sumpah pemuda ini sudah kita laksanakan sejak 23 Oktober 2023 yang lalu. Pada hari ini, merupakan puncak kegiatan yang mana, kita awali dengan pelatihan Literasi di aula sekolah dengan mendatangkan mentor dari media Jawa Timur.", sampainya.
Rejo sapaan akrabnya, juga menyampaikan jika dalam festival bulan bahasa ini, masih banyak kegiatan lain dan beberapa lomba yang sudah terlaksana beberapa hari lalu.
"Pada tanggal 24 Oktober lalu, kita juga laksanakan lomba melukis, mendongeng, dan lomba baca puisi. Finalnya kita adakan hari ini (Jum'at_red), sekaligus para siswa kita himbau untuk memakai baju adat untuk memperingati sumpah pemuda", terangnya.
Dalam kegiatan kali ini, juga digelar pameran karya seni dari kakak kelas 9. Tujuan unjuk karya ini, agar mendapatkan apresiasi dari sesama siswa.
Tidak hanya pelatihan Literasi, Lomba dan pameran karya seni. Sekolah juga mengadakan bazar yang pesertanya dibagi per kelas, dan makanan yang dijual khusus makanan - makanan tradisonal.
"Dengan menggunakan baju adat daerah, untuk memperingati Sumpah Pemuda. Masing-masing kelas yang mengikuti bazar kita sarankan untuk menjual aneka macam makanan tradisonal yaitu, klepon, tahu goreng, tahu isi, sawut, dan onde-onde. Tujuan bazar makanan tradisional ini, agar anak-anak milenial atau sekarang disebut Gen Z, tetap mengenal makanan tradisional jaman dulu dan tidak hanya mengenal makanan cepat saji saja", tegasnya.
Di akhir wawancara, Rejo sebagai Kepala Sekolah SMPN 3 mempunyai harapan agar siswa siswinya kelak, tidak meninggalkan adat budaya yang dimiliki bangsa Indonesia.
"Harapan saya sebagai Kelapa Sekolah, anak-anak milenial dan Gen Z, utamanya anak didik kami, tetap harus mengenal makanan tradisional sebagai akar budaya yang tidak boleh dihilangkan dan harus terus dilestarikan", tutupnya. (R_riX)
Editor : Redaksi