Semarak Apel 30.000 Kader NU di Gresik
Gresik - Persiapan Apel Akbar 30.000 Kader yang merupakan rangkaian acara menyambut 100 Tahun NU di Alun-Alun Kanjeng Sepuh, Sidayu, Gresik, terus dilakukan. Jumat (4/11), Satlantas Polres Gresik, Dinas Perhubungan (Dishub), Satpol PP, dan instansi terkait melakukan rapat koordinasi. Terutama penanganan dan pengamanan arus lalu lintas pada Rabu-Kamis, 9-10 November nanti.
Kepala Dishub Pemkab Gresik Tarso Sagito mengatakan, karena acara apel akbar itu melibatkan puluhan ribu warga NU dari seluruh kabupaten/kota di Jatim maka perlu ada pengaturan arus kendaraan. Bahkan, ada penutupan beberapa ruas jalan. Dari hasil rakor, penutupan jalan akan dilakukan di pertigaan Bungah dan pertigaan Golokan, pada Rabu (9/11) mulai pukul 20.00 WIB hingga Kamis (10/11) pukul 12.00 WIB.
‘’Hanya jamaah atau peserta yang boleh melintas menuju ke kawasan Alun-Alun Kanjeng Sepuh, Sidayu. Nanti ada petugas dan panitia yang menjaga di pertigaan Bungah maupun pertigaan Golokan,’’ paparnya.
Tarso mengimbau agar kendaraan-kendaraan besar tidak melintas jalur Sidayu pada hari dan jam tersebut. ‘’Panitia diminta agar berkisim surat ke pengusaha-pengusaha sekitar yang memiliki kendaraan besar untuk sementara tidak melintasi Sidayu,’’ tegasnya.
Pada Rabu (9/11) malam, mulai pukul 19.00, ada Pawai Obor dengan jumlah peserta sekitar 1.000 orang. Rute pawai dari MWC NU Dukun menuju ke Alun-Alun Kanjeng Sepuh, Sidayu. ‘’Nah, selama pawai obor itu peserta tidak boleh menutup seluruh badan jalan raya. Wajib separo saja sebagai antisipasi jika terjadi kemacetan,’’ ungkapnya.
Wakil Sekretaris PCNU Gresik Ali Mujib mengatakan, pihaknya meminta maaf kepada para pengguna jalan yang terdampak selama kegiatan Apel Akbar 30.000 Kader NU berlangsung.
Dia menegaskan, untuk memperlancar dan memiminalkan kepadatan pihaknya telah melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait. Mulai TNI-Polri, jajaran pemkab hingga masyarakat sekitar.
’’Per hari ini, yang sudah konfirmasi bakal hadir sudah sebanyak 28.850 kader NU dari berbagai daerah di Jatim,” kata Mujib, yang juga ketua panitia lokal Apel Akbar 30.000 Kader NU Jatim itu, Kamis (3/11).
Pihaknya juga mempersilakan masyarakat sekitar Alun-Alun Kanjeng Sepuh, Sidayu, untuk beramai-ramai menyemarakkan serangkaian hiburan menarik, menandai Satu Abad NU yang dihelat PCNU Gresik, pada Rabu (9/11) malam. Selain Pawai 1.000 Obor, juga ada penampilan hadrah masal 1.000 orang dari Ikatan Seni Hadrah Republik Indonesia (Ishari).
Selain itu, tari saman SMA NU, tari tayung warga Raci, Karawitan Lesbumi festival damar kurung hingga launching Syair Dzikra Miladi NU karya KH Umar Burhan, salah seorang ulama NU asal Gresik yang memiliki kemampuan dalam bidang kearsipan. Semasa hidup, dia juga dikenal sebagai juru bicara pendiri NU Hadratussyaikh KH Hasyim Asyari.
Teladan dari Kanjeng Sepuh
Bukan tanpa alasan kuat PWNU Jatim menempatkan Apel Akbar 30.000 Kader NU di Gresik. Sebab, kabupaten tetangga Kota Surabaya itu memiliki sejarah peradaban panjang dalam persebaran Islam di Nusantara. Mulai dari zaman Wali Songo, penjajahan Belanda, prakemerdekaan, kemerdekaan hingga masa-masa awal kemerdekaan.
Nah, salah seorang di antara tokoh yang berperan dalam perkembangan Islam itu adalah Kanjeng Sepuh. Mengutip laman Dinas Perpustaan dan Arsip Pemprov Jatim, nama Kanjeng Sepuh Sidayu mungkin masih asing bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia. Namun, bagi warga Gresik dan sekitarnya, tokoh ini bukanlah orang sembarangan. Dia begitu dihormati oleh semua kalangan. Baik dari kalangan pejabat sampai rakyat jelata.
Selain dikenal sebagai seorang wali yang kerap mengajarkan ajaran-ajaran kebajikan. Semua tentu tak lepas dari keberaniannya dalam menentang penjajah Belanda di zaman perjuangan.
Dia sangat menentang kebijakan diskriminasi atau pengelompokan masyarakat berdasarkan kelas dan golongan yang dilakukan Belanda. Sebab, dalam pandangannya, semua manusia itu sama. Yang membedakan di hadapan Tuhan hanyalah amal dan ketaqwaannya.
Kanjeng Sepuh juga menentang pengenaan pajak yang begitu tinggi, yang diberlakukan Belanda. Hal ini membuat Belanda sangat marah hingga menempatkan Kanjeng Sepuh atau yang bergelar Kyai Panembahan Haryo Soeryo Diningrat itu sebagai salah satu musuh besar pemerintah kolonial. Sebab apa yang dilakukan oleh Kanjeng Sepuh itu jelas-jelas merugikan pemerintah kolonial Belanda.
Kanjeng Sepuh adalah bupati dari Kabupaten Sidayu, yang kini sudah dihapuskan. Sejak berdiri pada 1675, Kabupati Sidayu dipimpin oleh sedikitnya sepuluh bupati. Namun, bupati yang paling dikenal adalah Kanjeng Sepuh, yang merupakan bupati ke-8.
Sidayu sendiri posisinya berada sekitar 20 km di sebelah barat Kota Gresik. Di tempat ini, sisa-sisa peninggalan kabupaten berupa Alun-alun masih bisa dilihat dengan jelas. Tak hanya itu, beberapa situs bangunan kabupaten juga masih tersisa meski sudah nyaris tak berbentuk.
Pada 1910, Kabupaten Sidayu oleh Pemerintah Belanda diintegrasikan ke Kabupaten Jombang. Namun, setelah proklamasi, akhirnya wilayahnya dimasukkan dalam wilayah Kabupaten Gresik.
Sosok kedekatan Kanjeng Sepuh dengan rakyatnya bisa dikatakan sangat istimewa. Hampir tiap kali dia melakukan perjalanan untuk menilik desa- desa di sekitarnya, sambutan yang mengelu-elukan datang silih berganti. Kanjeng Sepuh tahu bagaimana cara untuk bisa menentramkan rakyat.
Hubungan itu makin erat manakala Kanjeng Sepuh sering melakukan perjalanan sendiri di malam hari. Menemui rakyatnya. Seperti yang dilakukan salah seorang Khullafatur Rosyidin, yaitu Umar bin Khatab. Yang selalu berusaha menegakkan keadilan di tengat-tengah rakyatnya, dengan langsung turun sendiri, guna mengetahui apa yang sesungguhnya terjadi.
Kanjeng Sepuh juga dermawan. Senantiasa memberikan sumbangan kepada rakyatnya yang saat itu dilihatnya tengah mengalami penderitaan. Karena itu, begitu terjadi perang melawan penjajah, masyarakat Sidayu dengan gagah berani maju melindungi pemimpinnya itu.
Kini, makam Kanjeng Sepuh tetap terawat dengan baik. Setiap tahun selalu diadakan haul untuk memperingati hari meninggalnya sang tokoh. Ribuan warga sekitar selalu tumpah ruah memenuhi halaman Masjid Besar Kanjeng Sepuh di Sidayu itu.
Selain memberikan penghormatan dengan iringan doa, warga juga meyakini bahwa Kanjeng Sepuh adalah seorang wali yang memiliki karamah. Dan, keberkahan itulah yang menjadi magnet warga yang hadir. Mereka meyakini dengan keberkahan itu membuat kehidupan seseorang menjadi lebih baik. Keyakinan itu masih tetap dipegang teguh hingga sekarang. (jawapos)
Editor : Redaksi