JIAT Donggala Rampung, Sawah Tadah Hujan Mulai Dialiri Air

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Salah satu bangunan JIAT di Kabupaten Donggala telah siap dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi lahan pertanian dan perkebunan (foto: agus_beritaformat)
Salah satu bangunan JIAT di Kabupaten Donggala telah siap dimanfaatkan oleh petani untuk mengairi lahan pertanian dan perkebunan (foto: agus_beritaformat)

Proyek Jaringan Irigasi Air Tanah (JIAT) di sejumlah titik di Kabupaten Donggala dilaporkan telah rampung dibangun menggunakan anggaran APBN. Infrastruktur tersebut ditujukan untuk membantu pengairan lahan pertanian, khususnya sawah tadah hujan yang selama ini bergantung pada musim.

Balai Wilayah Sungai (BWS) III Palu melalui PjPA PPK Air Tanah dan Air Baku (ATAB), Andi Anugerah, mengatakan pembangunan JIAT difokuskan pada lahan pertanian skala kecil yang sulit mendapatkan akses air.

“Kalau 15 hektare itu tetap bisa, tapi harus ada penggiliran. Idealnya memang di kisaran 5 sampai 10 hektare supaya lebih efektif,” ujar Andi Anugerah, Selasa (5/5/2026).

Ia menjelaskan, satu titik jaringan irigasi air tanah secara ideal mampu mengairi lahan seluas 5 hingga 10 hektare. Dalam kondisi tertentu, jaringan tersebut bahkan dapat menjangkau hingga 15 hektare dengan sistem pembagian air antar petani.

Menurutnya, program JIAT merupakan bagian dari percepatan swasembada pangan nasional sesuai Instruksi Presiden Nomor 2 tentang percepatan swasembada pangan. Pemerintah pusat kini mulai membuka ruang intervensi untuk lahan-lahan kecil yang sebelumnya belum tersentuh program irigasi.

“Potensi sawah kecil di Indonesia ini sangat besar. Kalau semuanya termanfaatkan, target swasembada pangan bisa tercapai,” katanya.

Namun, pengusulan program tetap harus melalui pemerintah daerah, khususnya Dinas PU dan Dinas Pertanian kabupaten sebelum diteruskan ke BWS.

Andi menegaskan, kesiapan pemerintah desa dan kelompok tani menjadi syarat utama agar program dapat berjalan tanpa hambatan. Salah satunya terkait kepastian status lahan hibah untuk pembangunan sumur bor dan rumah pompa.

“Jangan sampai saat sudah diusulkan dan mau dibangun, justru muncul persoalan lahan. Ini yang harus dipastikan sejak awal,” tegasnya.

Dalam waktu dekat, BWS III Palu bersama pemerintah daerah juga akan melakukan survei lapangan sebelum proses serah terima aset dilakukan agar fasilitas yang telah dibangun segera dimanfaatkan masyarakat.

Saat ini, di Kabupaten Donggala baru sekitar lima titik JIAT yang terverifikasi masuk program. Jumlah tersebut dinilai masih jauh dari kebutuhan petani di lapangan.

Minimnya usulan disebut lebih disebabkan kurangnya informasi dan koordinasi antara pemerintah desa dengan dinas terkait.

“Masyarakat sebenarnya butuh, tapi sering bingung jalur pengusulannya. Karena itu, kami dorong agar desa atau kelompok tani aktif menyampaikan usulan ke Dinas PU,” tambahnya.

Program JIAT diproyeksikan terus berlanjut dalam beberapa tahun mendatang sebagai bagian dari target swasembada pangan nasional. Pemerintah juga membuka peluang pengajuan lokasi baru untuk lahan pertanian yang belum memiliki akses irigasi.

Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Ekonomi
Lokasi: Donggala, Sulawesi Tengah
Sumber: Liputan