Minat Jurusan Pertanian Menurun, SMKN 1 Galang Ubah Pola Belajar Jadi Berbasis Riset
Menurunnya minat siswa terhadap jurusan pertanian di SMK mendorong SMKN 1 Galang melakukan perubahan metode pembelajaran. Sekolah tersebut kini menerapkan model Project Based Learning (PjBL) berbasis sains untuk mengubah persepsi bahwa pertanian identik dengan pekerjaan fisik semata.
Kepala SMKN 1 Galang, Muliadi, mengungkapkan selama ini citra jurusan pertanian kurang diminati karena dianggap identik dengan aktivitas mencangkul, membersihkan rumput, hingga penyemprotan.
“Selama ini persepsinya pertanian itu kerja fisik. Orang tua tidak mau anaknya masuk jurusan ini,” ujar Muliadi, Jumat (10/4).
Untuk mengatasi hal itu, sekolah mengubah pendekatan belajar dengan membagi peran antara siswa dan mentor lapangan. Pekerjaan berat seperti pengolahan lahan hingga pemeliharaan diserahkan kepada mentor, sementara siswa difokuskan sebagai periset.
Siswa melakukan pengamatan terhadap kondisi lahan, seperti kualitas tanah, kelembaban, suhu, hingga pertumbuhan tanaman. Data tersebut kemudian dianalisis di laboratorium untuk menghasilkan rekomendasi teknis yang diterapkan di lapangan.
“Siswa tidak lagi sekadar mencangkul, tapi menjadi peneliti yang memberi rekomendasi berbasis data,” jelasnya.
Selain itu, sekolah juga mengintegrasikan konsep teaching factory (TEFA) dengan rencana penanaman sekitar 3.000 pohon semangka di lahan ±60 are, yang selanjutnya akan dikembangkan ke komoditas lain seperti cabai.
Muliadi mengakui, selama ini praktik pertanian di sekolah sering tidak tuntas, mulai dari penanaman hingga panen, sehingga hasilnya tidak maksimal meski menggunakan dana operasional sekolah.
“Selama ini praktik hanya sampai tanam, tidak sampai panen. Orientasinya belum pada kualitas hasil,” katanya.
Dengan model baru, proses pembelajaran kini harus melalui tahapan jelas: pengambilan data di lapangan, analisis laboratorium, hingga rekomendasi sebelum eksekusi dilakukan.
Sekolah juga menekankan pentingnya standar kerja, termasuk aspek keselamatan (K3) dan pemanfaatan laboratorium yang selama ini belum optimal.
“Kalau tidak ada rekomendasi dari lab, jangan lakukan tindakan di lapangan,” tegas Muliadi.
Melalui pendekatan ini, SMKN 1 Galang berharap mampu mengubah citra jurusan pertanian menjadi lebih ilmiah, modern, dan berbasis teknologi.
“Kita ingin siswa pertanian dipandang sebagai ilmuwan dan profesional, bukan hanya pekerja fisik,” tutupnya.
Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Pendidikan
Lokasi: Toli-toli, Sulawesi Tengah
Sumber: Liputan
Editor : Redaksi