IGD RS Woodward Palu Disorot: Pasien Diduga Tak Ditriase, Humas Jawab Normatif
Dugaan buruknya pelayanan Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RS Woodward mencuat ke publik setelah unggahan akun media sosial bernama Yani Zeyn, pada Selasa (7/4), viral dan menuai ratusan respons. Keluhan tersebut menyoroti pasien anak yang disebut datang dalam kondisi lemas, namun tidak langsung mendapatkan penanganan medis awal.
Dalam unggahan itu, pihak keluarga mengaku hanya menerima informasi bahwa ruang IGD “penuh”, tanpa dilakukan proses triase, tahapan awal wajib dalam penanganan pasien gawat darurat untuk menentukan tingkat prioritas medis.
Jika benar terjadi, kondisi ini berpotensi mengarah pada dugaan pelanggaran standar operasional prosedur (SOP) pelayanan IGD, sekaligus membuka risiko serius terhadap keselamatan pasien.
Berdasarkan penelusuran redaksi, terdapat sejumlah poin krusial dimana pasien tidak langsung dilakukan triase saat masuk IGD, minimnya komunikasi dan empati dari petugas, tidak adanya opsi penanganan alternatif atau rujukan dan indikasi overkapasitas ruang IGD.
Padahal dalam praktik medis, pasien dengan kondisi lemas harus melalui pemeriksaan awal untuk menentukan apakah masuk kategori emergency atau tidak.
Redaksi mengajukan 13 pertanyaan kritis kepada manajemen rumah sakit, mulai dari kronologi kejadian, SOP penanganan saat IGD penuh, hingga transparansi audit internal dan sanksi terhadap petugas jika ditemukan kelalaian.
Namun hingga berita ini disusun, jawaban yang diberikan pihak rumah sakit dinilai belum menyentuh substansi persoalan.
Humas RS Woodward, Tian, hanya memberikan pernyataan singkat, “Manajemen sudah melakukan klarifikasi ke pihak terkait dan sudah ada klarifikasi lewat media Palu.” Kamis (9/4/2026).
Jawaban tersebut tidak menjawab satu pun pertanyaan spesifik yang diajukan redaksi, termasuk terkait, apakah triase dilakukan? siapa petugas saat kejadian? serta langkah evaluasi internal. Sikap ini dinilai sebagai klarifikasi normatif tanpa transparansi data.
Di sisi lain, pemilik akun Facebook atas nama Yani Zein yang pertama kali mengunggah keluhan tersebut belum dapat dikonfirmasi.
Redaksi telah berupaya menghubungi yang bersangkutan, termasuk melalui akun Instagram yang diduga terafiliasi, namun hingga saat ini belum ada tanggapan maupun keterangan resmi terkait unggahan yang telah beredar luas di publik.
Kondisi ini membuat proses verifikasi lapangan masih terus berjalan guna memastikan akurasi penuh dari seluruh informasi yang berkembang.
Kasus ini tidak hanya menyangkut satu insiden pelayanan, tetapi juga menyentuh aspek kepercayaan publik terhadap layanan kesehatan.
Dalam konteks pelayanan publik, transparansi dan akuntabilitas merupakan kunci. Ketika rumah sakit tidak memberikan jawaban terbuka dan berbasis fakta, maka ruang spekulasi publik akan semakin melebar.
Seorang pemerhati kebijakan publik, Dr. Moh. Hasan, M.H., M.M., menilai, jika dugaan tersebut benar, maka persoalannya bukan sekadar teknis pelayanan.
“IGD itu gerbang utama penyelamatan nyawa. Kalau triase saja tidak dilakukan, itu bukan lagi soal administrasi, tapi potensi kelalaian serius. Manajemen harus berani buka data, bukan berlindung di balik klarifikasi umum,” tegasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pihak RS Woodward belum memberikan klarifikasi lanjutan secara rinci kepada redaksi.
Redaksi menegaskan akan terus melakukan penelusuran dan membuka ruang hak jawab bagi semua pihak untuk menyampaikan penjelasan berbasis data dan fakta.
Reporter: Saiful
Editor: W13D
Kategori: Daerah
Lokasi: Palu, Sulawesi Tengah
Sumber: Investigasi
Editor : Redaksi