Patriarki Tak Pernah Pergi: Hanya Berganti Wajah, Perempuan Tetap Dibatasi
Di tengah klaim kemajuan zaman, patriarki disebut “memudar”. Faktanya, ia tidak hilang, melainkan bertransformasi menjadi lebih halus dan tak kasat mata. Pembatasan terhadap perempuan kini tidak lagi terang-terangan, tetapi hadir melalui standar sosial, budaya populer, hingga sistem yang dianggap “normal”.
Fenomena ini berlangsung nyata di era modern, terutama dalam ruang digital yang justru memperkuat objektifikasi perempuan melalui media sosial.
Perempuan terus didorong memenuhi standar kecantikan semu demi pengakuan sosial. Nilai diri direduksi pada penampilan fisik. Lebih ironis, tekanan ini tidak hanya datang dari luar, tetapi juga terinternalisasi membentuk cara pandang perempuan terhadap dirinya sendiri.
Di sisi lain, perempuan menghadapi beban ganda: dituntut mandiri secara ekonomi, namun tetap memikul tanggung jawab domestik hampir sepenuhnya. Hasilnya, kerja dua kali lipat, pengakuan setengah hati.
Perempuan di berbagai sektor, dari ruang kerja hingga ranah domestik, masih terjebak dalam sistem yang belum sepenuhnya adil. Minimnya representasi di posisi strategis memperkuat ketimpangan ini, diperparah oleh stereotip lama yang terus direproduksi.
Masalahnya bukan pada kapasitas perempuan, tetapi pada sistem yang sejak awal timpang. Patriarki bahkan bersembunyi di balik tafsir budaya dan agama yang bias, menjadikan ketidakadilan seolah “kodrati” dan tak terbantahkan.
Perubahan tidak cukup dengan mendorong perempuan masuk ke dalam sistem yang ada. Yang dibutuhkan adalah membongkar sistem itu sendiri, menciptakan struktur yang adil dan setara.
“Kesetaraan bukan ancaman, tetapi syarat utama masyarakat yang beradab.”
Selama patriarki masih beroperasi dalam bentuk yang lebih halus, maka modernitas hanyalah ilusi. Perempuan didorong maju, tetapi tetap dalam batas yang ditentukan sistem.
Membongkar patriarki bukan agenda perempuan semata, melainkan keharusan bersama. Tanpa itu, kesetaraan hanya akan berhenti sebagai jargon 'rapi di permukaan, timpang di dalam'.
Penulis: Aisah A. Panti
Sumber: Opini
Editor: W13D
Editor : Redaksi