Santri Wafat di Ponpes Al Hikmah Lambunu, Polisi Dalami Dugaan Kekerasan

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Asri, Kepala Kantor Perwakilan beritaformat Sulteng saat mengklarifikasi kejadian dan ditemui langsung oleh pengasuh Ponpes Salafiyah Al Hikmah, Ahmad Wargono, S.H. (foto : asri_beritaformat)
Asri, Kepala Kantor Perwakilan beritaformat Sulteng saat mengklarifikasi kejadian dan ditemui langsung oleh pengasuh Ponpes Salafiyah Al Hikmah, Ahmad Wargono, S.H. (foto : asri_beritaformat)

Rabu, 22 Oktober 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Parigimoutong, Sulawesi Tengah | Kategori; Peristiwa | Penulis; Asri

Kasus meninggalnya seorang santri bernama Alwisnu Syahputra di Pondok Pesantren Salafiyah Al Hikmah, Desa Kotanagaya, Kecamatan Bolano Lambunu, Kabupaten Parigi Moutong, kini tengah menjadi perhatian publik. Polisi telah melakukan penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti kematian santri tersebut, sementara pihak pondok menyatakan siap bekerja sama dan mendukung penuh proses hukum yang berjalan.

Dugaan kasus bullying di lingkungan pondok ini mencuat ke publik setelah beredarnya unggahan di media sosial Facebook yang menyebut seorang santri meninggal dunia karena diduga menjadi korban perundungan.

Kabar tersebut memicu perhatian luas hingga pihak pondok melakukan klarifikasi pada Selasa (21/10/2025). Kepala Pondok Pesantren Ahmad Wargono, S.H., membenarkan bahwa santri bernama Alwisnu Syahputra meninggal dunia usai menjalani perawatan medis, namun ia menegaskan belum ada bukti kuat bahwa penyebabnya akibat pembulian.

“Hari Senin 13 Oktober 2025, saya dapat kabar Alwisnu dibawa ke Puskesmas Mepanga dan dirujuk ke RS Tombolotutu. Setelah itu langsung masuk ruang ICU dan meninggal dunia. Begitu saya mau menjenguk, almarhum sudah dibawa ke Palu pada, Selasa 14 Oktober 2025,” ujar Ahmad Wargono.

Ahmad menuturkan, pihaknya langsung berkoordinasi dengan Polsek Lambunu dan meminta pendampingan hukum. Ia menegaskan tidak ada pengakuan dari para santri bahwa telah terjadi kekerasan di pondok.

“Kami sudah diperiksa oleh penyidik dan Tim Inafis dari Polda Sulteng selama empat hari. Semua staf pondok, dan santri sudah dimintai keterangan, termasuk saya juga telah di-BAP dan disumpah. Dari hasil pemeriksaan internal, tidak ditemukan adanya pembulian,” tegasnya.

Kepala pondok menambahkan, pihaknya sangat berduka dan siap mendukung penuh proses hukum jika ditemukan bukti kekerasan.

“Kami sangat terpukul atas kejadian ini. Jika memang hasil otopsi menunjukkan ada unsur kekerasan, kami mendukung penuh penegak hukum untuk mengusut tuntas siapa pelakunya. Kami juga akan melakukan reformasi total di pondok agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi,” ujarnya.

Sementara itu, Selvi, ibu tiri almarhum, mengaku heran dengan kondisi anak tirinya yang sempat dirawat sebelum meninggal. Ia mengatakan, Alwisnu mengeluh sakit dan terdapat luka memar di tangannya.

“Sejak dari pondok saya yang sering menjenguk. Anak saya baru tiga bulan mondok. Waktu saya jemput pada 8 Oktober 2025, dia mengeluh sakit dan ada lebam di tangan kanan dan kiri. Tapi dokter di Puskesmas Lambunu 2 bilang dia demam dan kemungkinan DBD atau malaria,” tutur Selvi melalui sambungan telepon.

Selvi menambahkan, luka memar baru terlihat kembali setelah Alwisnu dirujuk ke Puskesmas Mepanga, yang kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.

“Saya juga kaget kenapa pas di Puskesmas Mepanga baru ada lebam-lebam di tubuhnya. Sementara waktu saya rawat sebelumnya tidak seperti itu,” tambahnya.

Salah satu dokter umum di Puskesmas Lambunu 2 yang enggan disebut namanya membenarkan bahwa pasien atas nama Alwisnu Syahputra sempat dirawat pada 8–9 Oktober 2025.

“Pasien mengeluh demam, nyeri lutut kiri, dan mual. Hasil pemeriksaan menunjukkan bengkak ringan pada lutut yang kemungkinan karena benturan. Tapi anak itu bilang jatuh di kamar mandi, jadi kami tidak mengarah ke dugaan kekerasan,” jelas dokter tersebut.

Kini, kasus dugaan perundungan yang menyebabkan meninggalnya santri Alwisnu Syahputra tengah dalam penyelidikan aparat kepolisian dan Tim Inafis Polda Sulteng. Pihak pondok menyatakan siap memberikan data dan keterangan tambahan untuk memastikan penyebab pasti kematian korban.