Suara Kita, Duka Dandi, dan Arah Perjuangan yang Tercoreng

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Bahtiar, Mahasiswa Pasca Sarjana UMI Makasar (foto : Anshar_berotaformat.com)
Bahtiar, Mahasiswa Pasca Sarjana UMI Makasar (foto : Anshar_berotaformat.com)

Selasa, 2 September 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Sulawesi Selatan

Kategori; Opini | Penulis; Anshar, Kutipan; Bahtiar, Mahasiswa Program Doktoral Pascasarjana UMI Makassar

Artikel ini membahas tragedi kematian Dandi, seorang pengemudi ojek online di Makassar, setelah dituduh sebagai "intel" oleh massa demonstran.

Bahtiar menyampaikan keprihatinan atas hilangnya nyawa Dandi dan mengkritik arah perjuangan yang tercoreng akibat tindakan kekerasan yang salah sasaran.

- Kematian Dandi adalah tragedi kemanusiaan yang mencoreng perjuangan mahasiswa dan aktivis.
- Kekecewaan terhadap DPR adalah sah, tetapi tidak dengan tindakan kekerasan terhadap sesama warga.
- Mari kita introspeksi diri dan mengembalikan kemurnian perjuangan dengan cara yang lebih bermartabat dan strategis.
- Bahtiar juga menyoroti kegagalan wakil rakyat dalam mengelola harapan publik, yang menyebabkan frustrasi dan amarah di masyarakat.
- Dirinya menyerukan kepada anggota DPR untuk turun melihat langsung luka masyarakat, mengkaji ulang kebijakan bermasalah, dan memberikan solusi konkret.

Bahtiar melihat fenomena kekerasan dalam demonstrasi dan bagaimana amarah yang tidak terkendali dapat menyebabkan tragedi yang tidak bersalah. Ia juga menyoroti kesenjangan antara wakil rakyat dan rakyat yang mereka wakili.

Artikel ini merupakan refleksi mendalam tentang bagaimana perjuangan untuk keadilan dapat ternoda oleh tindakan kekerasan dan pentingnya menjaga akal sehat serta empati dalam menyampaikan aspirasi.

Bahtiar juga menekankan perlunya introspeksi dan mengembalikan kemurnian perjuangan agar tidak ada lagi korban yang tidak bersalah seperti Dandi.