Siswa Terlantar, Sekolah Filial di Tolitoli Minim Guru dan Fasilitas

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Suasana saat jam belajar di SMAN 1 Lampasio yang menjadi sorotan (foto : agus/asri_beritaformat.com)
Suasana saat jam belajar di SMAN 1 Lampasio yang menjadi sorotan (foto : agus/asri_beritaformat.com)

Kamis, 24 Juli 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Tolitoli, Sulawesi Tengah

Kategori: Pendidikan | Penulis: Agus/Asri

Kondisi Sekolah Filial SMA Negeri 1 Lampasio di Desa Silondou, Kecamatan Basidondo, Kabupaten Tolitoli memprihatinkan. Sekolah yang menampung 62 siswa ini hanya menumpang di gedung SMP Negeri 1 Basidondo dengan fasilitas yang serba terbatas.

Pantauan di lapangan menunjukkan ruang kelas berantakan, bangku dan meja siswa tidak mencukupi, bahkan sebagian dalam kondisi rusak. Akibatnya, siswa kelas 10 dan 11 harus berbagi meja secara bergantian saat jam pelajaran berlangsung.

Tak hanya fasilitas, kehadiran guru juga menjadi persoalan utama. Siswa mengaku kerap ditinggal tanpa pengawasan karena guru dari sekolah induk jarang hadir. Dalam beberapa hari terakhir, tidak ada satupun guru yang mengajar, hanya memberi tugas tanpa pendampingan. Hal ini menyebabkan banyak siswa pulang sebelum waktunya.

"Sudah dua hari tidak ada guru masuk. Kadang guru dari sekolah induk datang, kadang tidak. Kalau tidak ada guru, ya kami pulang jam 10 pagi," ujar salah satu siswa kelas 12 kepada media ini, Kamis (24/7).

Sementara itu, Kepala SMAN 1 Lampasio Amri, S.Pd, M.Pd, membantah keterlibatan guru honorer dari SMP dan menyebut ketidakhadiran guru di sekolah filial disebabkan kegiatan lain di sekolah induk.

"Anak-anak lebih baik belajar di sekolah induk, karena pelayanan dan kedisiplinan lebih terjamin. Di sekolah utama, jam pulang pukul 4 sore. Kalau di filial, mungkin mereka pulang cepat karena jadwal guru padat. Kalau pun hanya diberikan tugas tanpa pendampingan, itu bagian dari sistem. Soal dikerjakan atau tidak, itu tanggung jawab siswa," terang Amri.

Amri juga menyarankan agar siswa Filial ditarik kembali ke sekolah induk, namun hal ini terkendala oleh permintaan orang tua yang tetap ingin anak-anak mereka bersekolah di Desa Silondou.

"Ini menyangkut hak pendidikan anak. Jangan biarkan mereka belajar tanpa bimbingan yang layak. Pemerintah daerah dan Dinas Pendidikan harus segera turun tangan," tegas salah satu tokoh masyarakat Basidondo yang enggan disebut namanya.