"Unyil" Bongkar Dugaan Pungli di SMAN 1 Balaesang, APH Diminta Segera Investigasi

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Gambar ilustrasi (redaksi_beritaformat.com)
Gambar ilustrasi (redaksi_beritaformat.com)

FORMAT DONGGALA | Seorang siswa SMAN 1 Balaesang, sebut saja Unyil (nama samaran) mengungkapkan dugaan adanya Pungutan Liar (Pungli) di sekolahnya.

Menurut Unyil, setiap siswa diwajibkan membayar sejumlah uang setiap bulan, dengan nominal yang berbeda-beda untuk setiap kelas yang sudah berlangsung bertahun lamanya.

"Tarikan iuran Kelas X, Rp.10.000 per siswa, Kelas XI, Rp.10.000 per siswa, Kelas XII, Rp.5.000 per siswa. Dan belum genap tiga bulan kemarin, kami juga diminta iuran sebesar Rp.50 ribu per siswa dengan total ±500 siswa, dengan dalil untuk membeli kipas angin," jelas Unyil. Kamis (10/4).

Lebih lanjut Unyil menyampaikan, tidak hanya iuran bulanan dan iuran dadakan. Unyil juga mengetahui jika ada siswa alumni tahun 2019 yang ijazahnya masih ditahan pihak sekolah.

"Ijazah alumni tersebut bisa keluar asal membayar sejumlah uang yang nilainya tidak sedikit," imbuhnya.

"Saya sebagai siswa merasa punya beban dan resah, apalagi kondisi ekonomi teman-teman tentu berbeda-beda, ada yang orang tuanya kurang mampu." pungkas Unyil.

Terpisah pada, Sabtu (12/4) awak media telah menghubungi Kepala Sekolah SMAN 1 Balaesang, Drs. Yudin Wahe M.Pd., untuk meminta klarifikasi namun, hingga berita ini ditayangkan tidak ada jawaban.

Sementara pada, Minggu (13/4/2025), Mukti Wijaya, Ketua Koordinator Non Governmental Organization Forum Media Transformasi (NGO FORMAT) sangat menyesalkan dengan masih maraknya dugaan pungli yang berdalil sumbangan dan lain-lain.

Mukti sapaan akrabnya, meminta Aparat Penegak Hukum (APH), Kabupaten Donggala untuk segera melakukan investigasi dan menangkap pelaku pungli di sekolah.

"Keresahan siswa ini patut kita berikan atensi khusus agar tidak ada lagi pungutan di sekolah yang berdalil macam-macam bentuknya," tegas Mukti. (Asri)