SUF Oknum Kepsek MI Desa Bondoyong Diduga Tilep Gaji Guru, Uang PIP dan BOS
FORMAT PARIMO | Bak bertepuk sebelah tangan, apa yang menjadi arahan Direktur Jenderal (Dirjen) Pendidikan Islam, M. Ali Ramdhani, untuk pengelolaan Dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) Madrasah Ibtida'iyah (MI), agar dikelola dengan baik, efisien dan penuh dengan prinsip kehati-hatian, tanpa adanya konflik kepentingan.
Tidak sama halnya, dengan yang dilakukan oleh oknum Kepala Sekolah (Kepsek) MI di Desa Bondoyong inisial SUF. SUF diduga melakukan maladministrasi atas penggunaan dana BOS, PIP, dan Gaji Guru MI di Desa Patingke. Keluhan tersebut disampaikan salah satu guru, sebut saja Oemar Bakri (nama samaran).
Oemar Bakri mengeluhkan kepada awak media, atas sejumlah masalah yang muncul di tempatnya mengajarkan ilmu tingkat dasar. Sejak tahun 2022 hingga 2023, dana BOS, PIP dan Gaji guru madrasah tidak pernah dirasakan sebagaimana mestinya.
Bahkan, murid dan guru ketika melakukan pembelajaran di kelas, hanya beralas lantai. Tidak ada bangku, meja dan buku pelajaran, selayaknya sekolah pada umumnya. Kondisi ini semakin diperburuk dengan sejumlah bantuan untuk sekolah, siswa, dan guru yang raib ditelan bumi.
Kejadian tersebut, dituturkan Oemar Bakri secara lugas pada awak media, melalui sambungan telepon seluler.
"Sekolah MI di Desa Patingke, Kecamatan Tinombo yang berdiri sejak tahun 2021, hingga Juli 2021 belum ada dana apapun yang bisa dikelola. Kemudian, pada Juli 2022, barulah kita daftarkan MI tersebut, sebagai cabang MI yang ada di Desa Bondoyong, Kecamatan Sidoan," ungkap Oemar Bakri, Selasa (30/7/2024).
Lanjut Oemar Bakri, "dari 100 siswa kelas jauh di MI Desa Patingke yang kita daftarkan BOS, melalui MI Desa Bondoyong, hanya 39 siswa yang bisa terdaftar melalui aplikasi EMIS (Education Management Information System). Sisanya, akan secara otomatis terdaftar dan bisa mendapatkan bantuan BOS," terangnya.
"Sejumlah siswa kelas jauh di MI Desa Patingke, pernah mendapatkan dana PIP (Program Indonesia Pintar). Namun, yang bersangkutan (red_SUF) tidak menyerahkan ke anak-anak atau wali murid. Tidak tahu, SUF gunakan untuk apa uang itu," jelasnya.
Pun sama dengan dana BOS, "dalam kurun tahun 2022 hingga 2023 sudah terdaftar namun, dana itu tidak pernah diserahkan ke MI Desa Patingke. Jangankan beli ATK, buku pembelajaran untuk siswa saja tidak ada. Permasalahan ini sudah lama kami sampaikan kepada SUF namun, hingga kini tidak pernah ada niat baiknya (red_SUF)," lanjut Oemar Bakri.
Oemar Bakri juga mengungkapkan kekecewaannya, atas nasib guru yang mengajar di MI Desa Patingke, yang tidak pernah di gaji, ataupun mendapatkan fasilitas yang setara dengan sekolah madrasah lainnya.
"Mereka punya tanggung jawab menghidupi keluarganya dirumah, tidak terus menerus kerja bakti. Ini yang menyebabkan teman guru, 'mati enggan hidup tak mau', mereka semua sudah capek dengan kondisi ketidak adilan yang mereka rasakan. Bahkan, mereka pernah sekali terima gaji 1 juta, dalam jangka waktu 2 tahun, dan tidak semua guru (red_5 guru), 1 guru tidak di gaji hingga hari ini," keluhnya.
Oemar Bakri berharap, agar SUF bisa kooperatif, mengembalikan dana yang diduga sudah terpakai, termasuk dana PIP siswa agar, segera diberikan kepada yang berhak.
"Minta tolong, apa yang sudah menjadi hak siswa dan sekolah MI Desa Patingke segera dikembalikan agar, transparansi dan akuntabilitas bisa terus terjaga. Buku tabungan PIP juga begitu, kami mohon diberikan kepada wali murid atau siswanya langsung, agar mereka semua bisa merasakan keadilan yang merata dalam menempuh pendidikan," pungkas Oemar Bakri.
Terpisah, awak media mencoba mengklarifikasi permasalahan tersebut melalui sambungan telepon pribadi SUF, namun tidak aktif. Awak media, coba menggalih informasi dan tanggapan SUF melalui pesan singkat Whatsapp.
Bukannya mendapatkan klarifikasi dan tanggapan dari SUF. SUF malah mengancam akan melaporkan awak media ini ke Polisi karena, SUF merasa awak media hanya mendapatkan informasi sepihak.
"Nanti, saya dan kakak saya akan melapor ke kantor Polisi. Keluhannya, anda sampaikan di kantor saja karena, mungkin hanya dengar cerita sepihak saja. Nanti kita ketemu, makanya nama kasih yang jelas, alamatnya mana. Jika bicara seperti ini maka, akan saya laporkan dan ditunggu surat panggilannya!" ancamnya. (Asri)
Editor : Redaksi