BBM Ambulan dan Oksigen Kosong Pasien Sekarat Hingga Meregang Nyawa

avatar beritaformat.com
  • URL berhasil dicopy
Nampak foto Puskesmas Lambunu 2 tempat pasien menghembuskan nafas terakhirnya (foto : asri_beritaformat.com)
Nampak foto Puskesmas Lambunu 2 tempat pasien menghembuskan nafas terakhirnya (foto : asri_beritaformat.com)

FORMAT PARIMO | RY (55), warga Desa Siendang, Kecamatan Bolanolambunu, Kabupaten Parigimoutong, pasien diduga terlantar karena minimnya fasilitas kesehatan yang ada di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama) Puskesmas Lambunu 2, akhirnya meregang nyawa setelah tidak tertolong akibat, stok oksigen dan BBM (Bahan Bakar Minyak) mobil ambulan Puskesmas KOSONG. 

Kronologis kejadian, diceritakan keponakan RY, inisial IR, pada awak media saat berkunjung ke rumahnya (2/7). Pamannya (red_RY), tiba tiba drop (red_kondisi kesehatan menurun) saat duduk santai bersama IR. Seketika itu, IR membawanya dengan mobil pribadi, untuk dilarikan ke Puskesmas Lambunu 2 yang hanya berjarak 2 kilometer dari rumahnya, pada Jum'at (28/6). 

"Waktu berada didalam mobil, kaki paman sudah kaku. Kami pun, tiba di Puskesmas Lambunu 2 sekitar jam 23.00 WITA malam (red_hari yang sama), dan langsung mendapatkan tindakan medis, di pasangkan infus oleh perawat jaga," ungkap IR. 

Saat itu, kondisi RY terlihat oleh IR dan keluarganya masih bernafas, dimungkinkan karena bantuan oksigen. Ternyata prediksi IR salah, oksigen pada saat itu stoknya lagi kosong. 

"Dari keterangan perawat, stok oksigen saat itu sedang habis. Sekira jam 01.00 WITA, Sabtu (29/6) dini hari, perawat mengkonsultasikan ke dokter dan, dokter menyarankan agar paman saya segera di rujuk. Saya dan keluarga menyetujui, sekaligus menanyakan kesiapan mobil ambulan untuk membawa paman saya ke rumah sakit. Namun, salah seorang perawat menyampaikan jika, 2 unit mobil ambulan BBM nya kosong, dan sopir ambulan posisi sedang sakit," terang IR lemas. 

Lanjut IR, dirinya berupaya menelpon beberapa teman Kepala Desa (Kades) dan, berharap mendapatkan pinjaman mobil siaga desa untuk segera membawa RY ke rumah sakit. Akan tetapi, malam itu tidak ada satupun teman IR yang mengangkat teleponnya. Padahal, berkas rujukan sudah lengkap dan pasien tinggal memberangkatkan ke rumah sakit agar, segera mendapatkan pertolongan lanjutan. 

"Saya dan keluarga sangat menyesalkan keterbatasan fasilitas yang ada di Puskesmas Lambunu 2. Akhirnya, malam itu kami tidak mendapatkan mobil, dan hanya bisa pasrah. Sekalipun dirujuk, paman saya belum pernah sekalipun ditangani dokter, meskipun berkas rujukan sudah lengkap. Pada akhirnya, saat paman saya akan dipindahkan ke ruang rawat inap, beliau menghembuskan nafas terakhirnya," terangnya lirih. 

"Kami keluarga pasien memohon kepada pemerintah daerah, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Parigimoutong, sebagai stagholder yang membina langsung Puskesmas di daerah. Agar fasilitas kesehatan pertama untuk pasien, dan kesiapan mobil ambulan ketika keadaan darurat, bisa dimaksimalkan," pungkas IR. 

Terpisah, Ahkam, Kepala Puskesmas (Kapus) Lambunu 2, saat dikonfirmasi awak media diruang kerjanya menyampaikan, salah satu pemicu lambatnya penanganan pasien saat keadaan darurat memang dari solar pertamina yang jarang ada. Masalah kekosongan oksigen, menurutnya tidak setiap saat kosong. Kedepan dirinya akan lebih memaksimalkan lagi pelayanan dan kesiapan segala sesuatu terkait pertolongan pada pasien, khususnya pasien yang dalam keadaan darurat, Senin (8/7/2024). 

Ditempat yang sama, dokter Puskesmas Lambunu 2 menjelaskan, saat itu pasien sudah mengalami hilang kesadaran, Kadar Oksigen (KO) nya sangat rendah dan, kami sarankan untuk segera dirujuk, sekaligus mengedukasi keluarga pasien jika kemungkinan pasien selamat tipis sekali. 

"Waktu itu, posisi pasien sudah masuk IGD (Instalasi Gawat Darurat), saya perintahkan perawat untuk merangsang rasa nyeri, namun pasien sudah tidak bisa merespon rangsangan. Kebetulan malam itu saya lagi ijin, sehingga, perawat saya minta untuk merujuk pasien dan memberikan edukasi pada keluarga karena, harapan hidup pasien sangat tipis," terangnya. 

Dokter Puskesmas melanjutkan, "memang, disini kita sering mengalami kendala BBM mobil ambulan, karena sering terjadi kelangkaan solar. Terkadang mobil ambulan mogok, sehingga kita pinjam mobil siaga desa. Masalah oksigen, sebenarnya ada, namun saat itu stoknya lagi kosong dan, pengisiannya sulit, harus ke Parigimoutong kalau ingin mengisi oksigen. Kemudian untuk pelayanan pasien, kita terus berupaya membantu pasien agar, tetap dalam kondisi yang baik," pungkasnya. 

Salah seorang petugas Puskesmas Lambunu 2 menambahkan, "pengisian solar biasanya hari Senin, selain hari itu tidak ada. Kadang ketika kita membawa pasien rujukan, harus mengantri dulu untuk membeli solar. Kami berharap, agar mobil ambulan BBM nya diganti pertalite supaya, kita mudah mengisinya," harapnya. 

Hari itu juga, awak media mengkonfirmasi pemilik SPBU melalui telepon seluler, dan memberikan penjelasan, jika solar sudah mulai lancar. Memang, beberapa waktu lalu ada kendala pendistribusian ke SPBU sehingga, ada keterlambatan pasokan BBM khusunya solar subsidi. Namun, dirinya (red_pemilik SPBU) menolak jika stok solar sering kosong di SPBU nya, menjadi penyebab operasional ambulan Puskesmas terkendala. 

"SPBU tidak tahu kapan keadaan darurat yang di alami Puskesmas. Harusnya, pihak Puskesmas mengisi penuh tangki ambulan agar, ketika ambulan mendadak dipakai bisa siap. Solar subsidi sendiri terbatas, sehingga mereka (red_puskesmas) harus mempunyai program kerja, stok di jerigen atau isi penuh tangki ambulannya, jangan kalau akan dipakai merujuk pasien, baru mengantri isi solar," terangnya dengan nada kesal. (Asri)