Tegas! Ka.Dinkes Donggala Sangsi Nakes Puskesmas Batu Suya

avatar beritaformat.com
  • URL berhasil dicopy
dr. Syahriar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala berikan sangsi dan edukasi nakes Puskesmas Batu Suya (foto : asri_beritaformat.com)
dr. Syahriar Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala berikan sangsi dan edukasi nakes Puskesmas Batu Suya (foto : asri_beritaformat.com)

FORMAT DONGGALA | Pasca viral di pemberitaan terkait kematian Rosmini beberapa waktu lalu, Pemkab Donggala, melalui Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Donggala, Andi Rustam, memanggil pihak-pihak terkait, untuk mengklarifikasi, sekaligus memberikan arahan tentang perbaikan sistem pelayanan kesehatan di tingkat Puskesmas, Selasa (9/7/2024). 

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan (Ka.Dinkes) Kabupaten Donggala dr. Syahriar mengaku, dirinya baru mengetahui kasus kematian Rosmini ketika pemberitaan tersebut sudah viral, dan telah menjadi atensi Pemkab Donggala. 

"Setelah ramai diberitakan ribetnya mengurus rujukan melalui aplikasi SISRUTE, tidak membuat kita berkecil hati akan tetapi, kita semakin yakin bahwa, sistem rujukan melalui aplikasi SISRUTE harus ada perbaikan. Tentu bukan hanya saya yang mengalami hal ini, teman Kepala Dinas Kesehatan yang lain dan rekan medis di pelayanan primer (red_puskesmas) merasakan hal yang sama. Bahkan, baru 2 minggu yang lalu kita lakukan pertemuan dengan Kepala Dinas Kesehatan Provinsi, Kepala BPJS dan sejumlah Direktur rumah sakit Palu, membahas masalah aplikasi SISRUTE," ungkapnya saat diklarifikasi awak media melalui telepon seluler pribadinya. 

Lanjut Syahriar, dalam pertemuan itu, dirinya menanyakan masalah SISRUTE yang tidak pernah terselesaikan, dan pada akhirnya saling menyalahkan, menelantarkan pasien hingga, prinsip humanisme terhadap masyarakat seakan di nomor duakan gara-gara satu aplikasi. 

"Kalau dulu, sebelum kita punya aplikasi SISRUTE, begitu lihat pasien kondisinya tidak bisa dilayani di FKTP (Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama), langsung kita rujuk ke FKRTL (Fasilitas Kesehatan Rujukan Tingkat Lanjut). Sampai disana, pasien langsung mendapatkan penanganan awal sambil menunggu ruangan kosong, baik itu ruang perawatan intensif, maupun ruang rawat inap," terang mantan Kepala Puskesmas Batu Suya tersebut. 

Sekarang, menurutnya, "dengan adanya aplikasi SISRUTE, harus menunggu di approved (red_setujui), itu yg pertama. Kedua, masalah keterlambatan di approved dengan alasan, operator di rumah sakit tergantung dokter spesialis. Jadi ketika dokter spesialis belum memberikan persetujuan maka, mereka (red_nakes) yang bertugas di Puskesmas belum berani menyetujui untuk dirujuk. Ketika pasien dipaksakan dirujuk ke FKRTL, pengantarnya yang disalahkan, tapi kondisi ini tidak semuanya. Hal tersebut, membuat trauma nakes yang ada di FKTP. Saya selaku Ka.Dinkes sudah menginstruksikan, ketika ada kasus yang sifatnya darurat, mau disetujui atau belum, bawah dan antar ke rumah sakit," tegasnya. 

Syahriar juga menyampaikan, dirinya sudah memanggil, mengedukasi sekaligus memberikan punishment (red_sangsi) kepada nakes (tenaga kesehatan) yang saat itu bertugas. Sekaligus menginformasikan terkait mobil ambulance yang baru saja diberikannya kepada Puskesmas Batu Suya. 

"Tadi sudah kami lakukan BAP (Berita Acara Pemeriksaan) semua pegawai Puskesmas, Kepala Puskesmas, termasuk 2 orang dokternya kami undang, kami edukasi dan sudah kami berikan punishment. Karena apapun alasannya, saya sampaikan jika ini adalah kesalahan. Meskipun, mereka masih tertolong dengan info konsen (red_persetujuan) yang ditanda tangani keluarga pasien karena, pulang paksa. Walaupun keluarga pasien sudah menanda tangani, tetap harus diberikan edukasi sebab, kondisi pasien drop (red_menurun)," jelasnya. 

"Paksakan gunakan ambulance untuk merujuk, apalagi baru 2 minggu kemarin saya berikan ambulance ke Puskesmas Batu Suya agar, memudahkan untuk mengangkut pasien," imbuh Syahriar yang pernah berdinas di Puskesmas Batu Suya selama ±10 tahun. 

Selaku pimpinan, Syahriar melihat outputnya (red_hasil) ada kematian, diluar persoalan ajal yang sudah menjadi takdir Allah SWT. 

"Seharusnya tetap paksakan rujuk, mau naik mobil sendiri tetap paksakan dan lakukan pendampingan. Kecuali jika kalian (red_nakes) dipaksa, atau di usir oleh keluarga pasien. Walaupun kita tahu historinya sejak hari pertama masuk, kita mau rujuk ada penolakan dari keluarga. Namun, saya kesampingkan masalah itu karena, dalam hal ini, masyarakat jangan kita salahkan. Apapun alasannya, kita yang salah, kita yang harus perbaiki," harapnya. 

Pemkab Donggala, khususnya Dinas Kesehatan Kabupaten Donggala merasa terbantu atas pemberitaan kemarin. Hal itu di ungkapkan Syahriar secara langsung kepada awak media. 

"Saya senang jika ada rekan jurnalis yang peduli dengan permasalahan ini karena, kalau kami sendiri yang maju, banyak keterbatasan. Jika media sudah terlibat, Bupati, Sekda dan pejabatnya juga maka, apa yang kita harapkan bisa segera tercapai dengan mudah, untuk memperbarui sistem. Utamanya sistem pelayanan berbasis aplikasi yang tidak membuat masyarakat semakin susah mengakses kesehatan," pungkasnya. (Asri)