SISRUTE si "Kambing Hitam" Kematian Rosmini

avatar beritaformat.com
  • URL berhasil dicopy
Tangis histeris keluarga saat melihat jasad Rosmini saat pulang ke rumah dibopong oleh sejumlah kerabat dan tetangga (foto : asri_beritaformat.com)
Tangis histeris keluarga saat melihat jasad Rosmini saat pulang ke rumah dibopong oleh sejumlah kerabat dan tetangga (foto : asri_beritaformat.com)

FORMAT DONGGALA | Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis kesehatan di bawah supervisi Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota. Secara umum, mereka (red_puskesmas) harus memberikan pelayanan preventif (pencegahan), promotif (peningkatan), kuratif (penyembuhan) sampai dengan rehabilitatif (pemulihan), baik melalui Upaya Kesehatan Perorangan (UKP) atau Upaya Kesehatan Masyarakat (UKM). 

Beberapa waktu lalu, tepatnya Selasa (11/6) malam, Rosmini (46) dilarikan ke Puskesmas Batu Suya, Kecamatan Sindue Tambosabora, Kabupaten Donggala. Rosmini dibawah ke Puskesmas akibat mengalami gangguan pada perutnya. 

Kejadian yang di alami Rosmini, hingga menghembuskan nafas terakhir saat perjalanan menuju RSUD Palu, diceritakan secara singkat oleh Abdula, tak lain adalah suami Rosmini, kepada awak media saat bertandang ke rumah duka, Senin (24/6). 

"Selasa (11/6) malam, istri saya mengeluh sakit pada perutnya. Tanpa pikir panjang, langsung saya bawa ke Puskesmas Batu Suya menggunakan mobil Pickup. Sampai di Puskesmas sekitar jam 11 malam, dan langsung mendapatkan penanganan oleh perawat karena, sesampainya di Puskesmas, istri saya muntah-muntah," ungkapnya. 

Lanjut Abdula, "setelah mendapatkan tindakan medis, pemasangan infus oleh perawat di UGD (Unit Gawat Darurat), keesokan harinya, Rabu (12/6), istri saya dipindahkan ke ruang rawat inap Puskesmas. Ketika dilakukan pemeriksaan, tekanan darah istri saya drop di angka 70. Karena kita orang awam masalah kesehatan, maka saya bertanya pada perawat, apa solusinya dari Puskesmas? Petugas Puskesmas pun menjawab, di sini tidak ada solusinya, kalau bapak mau solusi, bagusnya dibawah ke RSUD Palu," terangnya. 

Dikarenakan panik atas kesehatan dan keselamatan istrinya, Abdula nekad membawa sang istri ke RSUD Palu menggunakan mobil pribadi milik rekan Jurnalis Media Central Palu. Langkah tersebut di ambil Abdula karena, prosedur atau SOP untuk menggunakan mobil Ambulance milik Puskesmas, menurutnya sangat ribet. Meskipun, dirinya sanggup mengeluarkan biaya lebih untuk membayar sewa mobil Ambulance. 

Usaha yang dilakukan Abdula dan keluarganya untuk menyelamatkan istri tercinta, sia-sia. Pasalnya, ditengah perjalanan menuju RSUD Palu, tepatnya di jembatan Desa Lero, Rosmini menghembuskan nafas terakhir, dengan kondisi bekas infus yang telah dicabut oleh perawat Puskesmas Batu Suya, sebelum Rosmini dibawah masuk ke mobil pribadi untuk dilarikan ke RSUD Palu. 

Pasca memakamkan istrinya pada Kamis, (20/6), Abdula berharap, "agar tidak terulang kejadian seperti istri saya, mohon dinas terkait untuk memberikan teguran pada Puskesmas Batu Suya atas pelayanannya," imbuhnya. 

Keluh kesah yang disampaikan Abdula, atas kejadian yang menimpa istrinya, ditepis oleh Doni, perawat Puskesmas Batu Suya, Senin (24/6). 

"Selasa malam, kami kedatangan pasien (Rosmini), dan langsung kami lakukan penanganan. Selanjutnya, kami konsultasikan kepada dr. Tita, dan disarankan agar pasien di rujuk. Awalnya keluarga pasien menolak, mungkin terkendala biaya. Meskipun memiliki BPJS, ketika kami cek, status kepersertaannya sudah tidak aktif. Pada Rabu pagi kondisi pasien semakin menurun, kami sarankan agar pihak keluarga bermusyawarah, dan seketika itu pihak keluarga meminta untuk segera dirujuk," terangnya. 

Doni juga menjelaskan, proses rujukan ke rumah sakit yang akan dituju, saat ini harus melalui Aplikasi SISRUTE (Sistem Informasi Rujukan Terintegrasi). Karena dari sistem tersebut, pihak rumah sakit akan mengecek dulu kesiapan ruang inap dan dokternya, jika data pasien tidak didaftarkan dalam sistem, dipastikan pasien akan ditolak oleh rumah sakit. Hal tersebut, sudah sesuai SOP (Standar Operasional Prosedur) tentang rujukan pasien untuk seluruh Puskesmas. 

Doni juga meluruskan keluhan pelayanan rujuk menggunakan mobil Ambulance Puskesmas, yang kelurga pasien sampaikan, berikut tindakan jika keluarga pasien, memaksa membawa pasien dengan mobil pribadi. 

"Kami bukan tidak memberi mobil Ambulance untuk di pakai oleh pasien. Akan tetapi, semua sudah ada mekanismenya. Masalah kami membuka infus, itu sudah sesuai SOP. Jadi, kalau keluarga mau pergi sendiri silahkan, walaupun kami tidak pernah menganjurkan. Semua kembali ke keluarga. Ketentuannya kami harus buka infus karena, kami tidak ingin pasien pergi masih menggunakan infus, tanpa didampingi petugas medis," jelas Doni. 

Pada waktu yang sama, Rahmat, selaku Kepala Puskesmas (Kapus) Batu Suya, tidak berada ditempat. Awak media hanya bisa mengklarifikasi melalui pesan Whatsapp dan mendapatkan jawaban singkat, "Saya masih menjaga orang tua sakit, nanti saya tanyakan ke Kepala Perawat dulu," sampainya. 

Sedangkan dr. Tita, dokter yang bertugas tidak berada di tempat. Meskipun awak media sudah berupaya menghubunginya sejak (27/6) lalu, hingga kini belum membalas pesan awak media. 

Untuk menegaskan kembali, apakah kejadian tersebut benar-benar karena faktor lalai atau faktor lainnya, awak media menggalih informasi lagi ke Abdula terkait keberadaan dokter jaga pada saat itu, dan beberapa dokumen yang mungkin dia tanda tangani sebelum membawa istrinya menggunakan mobil pribadi. 

"Sejak saya datang membawa istri ke Puskesmas Batu Suya, hingga membawanya ke RSUD Palu, saya tidak melihat dokter jaga, hanya perawat yang menangani istri saya. Dan, saya tidak pernah diminta, ataupun menanda tangani dokumen apapun, baik itu surat pernyataan atau yang lainnya," tegas Abdula melalui sambungan telepon, Sabtu (29/6/2024).