Ledakan Smelter Nikel SPIM-KPIB Desak Pemerintah Tutup Departemen Ferosilikon

avatar beritaformat.com
  • URL berhasil dicopy
Salah satu buruh smelter nikel morowali yang mengalami luka pasca kecelakaan kerja ledakan tungku smelter PT. ITSS (foto : spim/redaksi_beritaformat.com)
Salah satu buruh smelter nikel morowali yang mengalami luka pasca kecelakaan kerja ledakan tungku smelter PT. ITSS (foto : spim/redaksi_beritaformat.com)

FORMAT MOROWALI | Masih membekas diingatan kita, pada 24 Desember 2023 lalu, tungku smelter 41 PT. ITSS (Indonesia Tsingshan Stainless Steel) terbakar dan memakan korban jiwa, 21 orang meninggal dunia, 38 lainnya luka-luka. Berlanjut pada 19 Januari 2024, dua buruh mengalami sesak nafas akibat tungku terbakar. 

Seakan tak berhenti disitu, Kecelakaan kerja kembali terulang, pada Kamis (13/6/2024) sekira pukul 22.00 WITA, dua orang buruh, Jekrmariyono dan Yudaralan, kembali menjadi korban keserakahan kapitalis. 

Kejadian tersebut, di alami Jekrmariyono dan Yudaralan saat melakukan operasi sinkronisasi besi dingin, di kolam darurat bawah kompor listrik No. 41. Keluar dari kolam darurat, setelah ditiup dan dipotong dengan oksigen dingin, ledakan tiba-tiba terjadi saat melakukan pendinginan air di tepi kolam darurat. Luka bakar seketika dialami oleh kedua korban yang berdiri di sebelah barat kolam darurat. 

Dari rangkaian kecelakaan kerja tersebut, menandakan bobroknya sistem K3 (Keselamatan dan Kesehatan Kerja) di Departemen Ferosilicon, PT. ITSS Kawasan PT. IMIP. Ambisi pengusaha (kapitalis) untuk melipatgandakan profit merupakan biang keroknya. 

Rudin M, Ketua Harian Dewan Pimpinan Pusat (DPP) SPIM-KPBI (Serikat Pekerja Industri Morowali dan Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia) menyampaikan, tujuan system K3 di dalam suatu perusahaan, untuk melindungi Kesehatan dan Keselamatan kerja bagi buruh dan kesejahteraan keluarganya. Perusahaan, diduga tak pernah berbenah soal K3. 

"Seolah tak pernah, dan tak punya itikad memperbaiki kondisi kerja kami di IMIP, dan justru abai. Padahal, korban terus berjatuhan sampai hari ini," terang Rudin. 

Pihak pemerintah juga tak pernah serius. Kejadian terus berulang, akibat lemahnya pengawasan dari Dinas Ketenagakerjaan dalam melakukan pemantauan terhadap kondisi kerja di Kawasan PT. IMIP. 

"Kami, Serikat Pekerja Industri Morowali menuntut, agar Departemen Ferosilicon PT. ITSS, segera bertanggung jawab penuh atas peristiwa ini. Harapan kami Departemen Ferosilikon PT. ITSS harus ditutup dan tidak di operasikan lagi," pungkasnya. (Red)