Fokus Turunkan Stunting, Program Sehati Sasar Ibu Ibu Desa Leminggir
BERITA MOJOKERTO | Bupati Mojokerto dr.Ikfina Fahmawati,M.Si., menjaga komitmen untuk terus mengedukasi para orang tua, khususnya para ibu di Kabupaten Mojokerto, agar memperhatikan kesehatan dan pertumbuhan anak-anak sejak dalam kandungan, dengan memperhatikan asupan gizi, mengawasi dan menjaga tahapan tumbuh kembang anak.
Semuanya diuraikan bupati dalam acara Selasa Sehat Turunkan Stunting AKB dan AKI (Sehati), di Balai Desa Leminggir, Kecamatan Mojosari. Selasa, (12/12/2023) pagi.
Dalam acara, yang turut dihadiri Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Mojokerto dr. Ulum Rokhmat Rokhmawan, Kabid Kesmas Ninik, Kepala Puskesmas Modopuro Edy Gandiriyanto, Camat Mojosari Yulius, dan Forkopimca Mojosari, Bupati menyerahkan alat Antropometri kepada Kepala Desa Leminggir, Khusaeni.
Mengawali sambutannya Bupati mengatakan, "Kata kunci stunting adalah kurang gizi. Secara lengkap, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat kekurangan gizi kronis, disertai infeksi yang berulang. Bagi orang tua yang punya anak balita, jangan sampai jatuh dalam status stunting yang berpengaruh terhadap perkembangan otak. Sebab jika bayi-bayi lahir dalam kondisi stunting, maka dapat berisiko mengurangi kecerdasan hingga 20% atau di bawah standar. Maka dari itu, penuhi gizi mereka dengan makanan mengandung zat pembangun dari protein hewani (ayam, daging, ikan, telur) dan protein nabati (kacang-kacangan). Kelahiran bayi stunting sebenarnya bisa dicegah sedini mungkin sejak calon pengantin, saat hamil, bahkan sejak masih remaja dengan mencukupi zat besi supaya tidak kurang darah," jelasnya.
Selain kesehatan, Ikhfina juga mengedukasi para ibu, agar melimpahkan kasih sayang sebanyak-banyaknya untuk membangun karakter, serta mendorong para ibu untuk menegakkan sikap mendidik mulai dari hal sederhana seperti makan.
"Ketika anak sudah mulai bisa diberi makanan pendamping, biasakan dan kenalkan bahwa aktifvitas makan itu harus duduk. Jangan biasakan makan sambil beridiri, jalan-jalan, nonton gadget, dan penipuan. Penipuan disini artinya, jangan biasakan mengalihkan perhatian anak dengan cara apapun agar dia mau makan. Misalnya, seolah-olah melihat ada pesawat masuk mulut," ungkap Ikhfina.
Makanan pendamping tidak perlu ibu-ibu cicipi. Silahkan campur alpukat dengan hati ayam atau kuning telur, pepaya dengan ikan, silahkan. Bagaimana rasanya? Sekali lagi, tidak perlu penasaran untuk mencicipi. Asalkan anak kita mau, teruskan menyuapi. Anak kita sebelumnya hanya mengenal rasa ASI, jadi tidak perlu garam, gula, apalagi penguat rasa. Semua itu tidak dibutuhkan. Justru, kenalkanlah rasa makanan yang asli dan natural," pungkasnya. (R_X)
Editor : Redaksi