Dugaan Mafia Rekrutmen TNI: Rp200 Juta Raib, Casis Gagal Lolos, Nama “Istri Perwira” Dijadikan Tameng
Dugaan praktik mafia rekrutmen Calon Tamtama (CATA) TNI AD kembali mencoreng prinsip seleksi bersih dan transparan. Seorang orang tua casis mengaku kehilangan lebih dari Rp200 juta, setelah dijanjikan kelulusan melalui jalur belakang oleh pihak yang mengaku memiliki akses internal militer.
Korban, Irwan Laisi, S.Agr, ayah dari Aikal Afriawan (No. 132 0395/CATA/2024, Angkatan 2024 Kodam XIII/MDK), mengungkapkan bahwa anaknya sempat gugur di tahap kesehatan, namun kemudian dipanggil ulang oleh seorang perantara bernama SAK.
Menurut Irwan, perantara tersebut mempertemukannya dengan seorang perempuan bernama AN, yang disebut-sebut mengaku sebagai istri perwira TNI dan menjanjikan kelulusan dengan imbalan uang.
“Awalnya Rp15 juta, lalu Rp30 juta, kemudian Rp60 juta dengan alasan anak saya akan diberangkatkan ke Manado. Bahkan setelah anak saya sampai di Manado, masih diminta uang lagi. Total transfer kami lebih dari Rp200 juta,” ungkap Irwan kepada awak media, 28 Desember 2025.
Uang tersebut, kata Irwan, dikirim secara bertahap melalui rekening pribadi AN, termasuk dana hasil penjualan kebun keluarga.
Berdasarkan penelusuran awak media, modus dugaan percaloan ini dilakukan dengan pola membangkitkan harapan setelah casis dinyatakan gugur, menggunakan klaim kedekatan dengan perwira TNI, penarikan uang bertahap dengan alasan administrasi, keberangkatan, dan “pengamanan” dan perubahan sikap drastis saat kelulusan tidak tercapai.
Ironisnya, setelah hasil seleksi diumumkan dan Aikal dinyatakan tidak lulus, pihak yang menjanjikan bantuan justru bersikap menantang.
“Dia malah bilang silakan lapor. Padahal uang sudah habis dan anak saya gagal,” ujar Irwan.
Dikonfirmasi terpisah, SAK mengakui perannya sebagai perantara, namun menyebut dirinya juga mengalami kerugian.
“AN yang menyuruh saya carikan anak-anak yang mau masuk tentara. Saya perkenalkan Pak Irwan karena berharap anaknya bisa lolos. Tapi uang terus diminta, anak tidak lulus, bahkan uang saya dari jual kebun juga diambil,” kata SAK saat dihubungi via WhatsApp.
SAK menyebut, AN pernah menunjukkan foto bersama seorang pria berseragam TNI dan mengaku sebagai istri perwira, meski belakangan disebut telah bercerai.
Saat dikonfirmasi awak media pada Senin (29/12/2025), AN membantah tudingan penipuan dan justru menyebut keluarga casis sebagai pihak yang lebih dulu meminta bantuan.
“Dia yang duluan minta tolong supaya anaknya masuk. Dari awal sudah saya sampaikan, kalau tidak lulus ya tidak bisa dipaksakan. Jalurnya juga nyogok,” ujar AN melalui pesan WhatsApp.
AN bahkan menyatakan tidak keberatan jika kasus ini diberitakan.
“Bikin saja beritanya, yang adil. Kalau keberatan, silakan selesaikan lewat jalur hukum,” katanya.
Kasus ini menimbulkan kekhawatiran serius, karena, nama institusi TNI AD dibawa-bawa untuk kepentingan pribadi dengan cara klaim “istri perwira” dijadikan alat legitimasi. Praktik ini berpotensi merusak kepercayaan publik terhadap sistem rekrutmen TNI yang resmi dan gratis.
Hingga berita ini diterbitkan, belum ada laporan resmi ke aparat penegak hukum. Namun redaksi menilai kasus ini memenuhi unsur dugaan penipuan, percaloan, dan penyalahgunaan nama institusi negara.
Semua pihak telah diberikan hak jawab dan pemberitaan ini tidak menyimpulkan kesalahan pidana sebelum ada putusan hukum. Redaksi membuka ruang klarifikasi lanjutan dari pihak terkait, termasuk institusi resmi TNI.
Reporter: Asri / Agus
Editor: W13D
Kategori: Peristiwa
Lokasi: Donggala, Sulawesi Tengah
Sumber: Aduan Masyarakat
Editor : Redaksi