Rehabilitasi Lahan Pascabencana di Sigi Biromaru Tersendat, Petani Mendesak Penambahan Alat Berat

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Gambar ilustrasi Redaksi beritaformat
Gambar ilustrasi Redaksi beritaformat

Program rehabilitasi lahan masyarakat terdampak gempa dan likuifaksi 2018 di Kecamatan Sigi Biromaru terus berjalan, namun progresnya dinilai lambat. Dari total 137 hektare lahan yang harus diratakan di lima desa, capaian saat ini masih jauh dari target.

Kepala Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Sigi Biromaru, Sri Winarti, menjelaskan bahwa pengerjaan diawali di Desa Mpanau dengan luas 8,5 hektare yang berhasil dirampungkan dalam waktu sekitar tiga minggu.

“Alat yang diturunkan Dinas PUTR Sigi sebelumnya sudah menyelesaikan pemerataan di Mpanau. Namun masuk ke Desa Lolu, capaiannya masih jauh dari target 87 hektare. Itu pun alat yang bekerja awalnya cuma satu unit, baru kemudian ditambah satu lagi,” ujar Sri Winarti, Kamis (13/11).

Selain Mpanau dan Lolu, masih ada Desa Jono Oge, Sidondo I, dan Sidondo III yang menunggu giliran untuk diratakan.

Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Desa Lolu, Febriana, mengungkapkan bahwa berdasarkan poligon, progres pemulihan lahan baru sekitar 10 hektare.

“Di Lolu, Sintuwu baru 7 hektare dan Beringin II sekitar 3 hektare. Dari data awal 87 hektare, kini tinggal 82 hektare karena sebagian dialihkan untuk kaplingan perumahan,” jelasnya.

Sri Winarti menekankan perlunya penambahan alat berat agar rehabilitasi lahan dapat dipercepat.

“Petani kami sudah sangat ingin kembali menanam padi. Selama ini mereka terpaksa menanam sayuran karena mengandalkan sumur tanah dalam. Jika lahan bisa segera direhabilitasi, semangat mereka tinggi sekali untuk kembali bersawah,” katanya.

Ia menambahkan bahwa percepatan rehabilitasi sangat penting untuk mendukung target swasembada pangan di wilayah Sigi Biromaru.

Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Daerah
Lokasi: Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara narasumber