Dugaan Keracunan Makanan Gratis di Taopa, DPRD Desak Pemda Parigi Moutong Bertindak Tegas

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Awak media beritaformat bersama babhinkamtibmas dan pengurus SPPG Yayasan Berkah Nusantara Mandiri (foto : asri_beritaformat.com)
Awak media beritaformat bersama babhinkamtibmas dan pengurus SPPG Yayasan Berkah Nusantara Mandiri (foto : asri_beritaformat.com)

Kamis, 25 September 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Parigimoutong, Sulawesi Tengah

Kategori; Peristiwa | Penulis; Asri

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah 27 siswa SMPN 2 Taopa, Kecamatan Taopa, Kabupaten Parigi Moutong, diduga mengalami keracunan makanan pada Rabu (24/9). Hingga kini, 7 siswa masih dirawat intensif di RS Moutong, sementara 20 lainnya sudah dipulangkan ke orang tua mereka.

Kejadian ini mengundang perhatian serius DPRD Parigi Moutong. Ketua Komisi IV DPRD, Sutoyo, menegaskan bahwa pemerintah daerah, khususnya bupati dan wakil bupati, harus turun langsung menyikapi insiden ini.

“Kasus seperti ini bukan pertama kali terjadi di Parigi Moutong. Pemerintah daerah tidak boleh hanya menyikapi lewat Zoom, tapi hadir langsung. Program ini baru berjalan 4 minggu, sudah 27 anak terindikasi keracunan. Bagaimana jika nanti jumlahnya ratusan bahkan ribuan, karena satu SPPG bisa melayani sampai 4.000 orang,” tegas Sutoyo saat meninjau SPPG Desa Nunurantai, Kamis (25/9/2025).

Ia menilai seharusnya Dinas Kesehatan dilibatkan dalam kepengurusan Satuan Pelayanan Pemulihan Gizi (SPPG) sebagai unit pelaksana program MBG, karena menyangkut aspek kesehatan dan gizi masyarakat.

Wahyu, perwakilan SPPG, membantah dan menegaskan bahwa makanan yang disalurkan telah sesuai standar dan tidak ada kelalaian.

“Semua bahan makanan, termasuk tahu dan ayam, diperiksa kelayakannya sebelum dimasak. Saat ini penerima manfaat sudah mencapai 2.545 jiwa, dan pelayanan dilakukan setiap hari,” jelas Wahyu.

Camat Taopa, Zein SE, mengaku pihak kecamatan tidak pernah dilibatkan secara resmi dalam pelaksanaan program MBG.

“Kami hanya mendengar informasi adanya penyedia makanan gratis, tapi tidak ada surat resmi. Struktur program ini masih banyak kejanggalan,” tegas Zein.

Kepala SMPN 2 Taopa, Takdim, menyebut pihaknya hanya menerima dan mendukung program MBG tanpa mengetahui detail teknis pengelolaan makanan.

“Dari lebih 100 siswa yang makan, 27 mengalami gejala mual, pusing, dan sakit perut. Kami langsung membawa mereka ke Puskesmas Taopa, dan sebagian dirujuk ke RS Moutong,” jelas Takdim.

Sutoyo memastikan DPRD akan menindaklanjuti kasus ini dan menunggu hasil laboratorium untuk memastikan penyebab dugaan keracunan.

“Kami mendukung program MBG, tapi harus ada perbaikan serius agar tidak membahayakan masyarakat,” pungkasnya.