Warga Kaligoro Desak Penuntasan Kasus Penjemputan Alfan Yang Berujung Kematian

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Ahmad Dofir saat mencoba berkomunikasi dengan warga Kaligoro saat warga menuntut keadilan kasus kematian Alfan (foto : moek_beritaformat.com)
Ahmad Dofir saat mencoba berkomunikasi dengan warga Kaligoro saat warga menuntut keadilan kasus kematian Alfan (foto : moek_beritaformat.com)

FORMAT MOJOKERTO | Ratusan warga Dusun Kaligoro, Desa Kaligoro, Kecamatan Kutorejo, Kabupaten Mojokerto, mendesak aparat penegak hukum dan wakil rakyat mengusut tuntas kasus penjemputan seorang anak dari sekolah yang berujung pada kematian.

Patut diketahui, korban (red_Alfan), dijemput oleh orang tak dikenal langsung dari sekolah. Warga menduga tindakan tersebut menjadi pemicu kematiannya.

Aksi warga berlangsung pada hari ini, Selasa (17/6/2025), di Balai Dusun Kaligoro sebagai bentuk protes dan permintaan kejelasan proses hukum bagi para terduga pelaku.

Aksi dihadiri warga, keluarga korban, Kepala Desa, Kapolsek dan Camat Kutorejo, serta anggota DPRD Kabupaten Mojokerto Fraksi NasDem, Ahmad Dofir.

Warga menilai tindakan aparat tidak prosedural, tertutup, dan kurang transparansi. Mereka meminta penjelasan atas pasal yang dikenakan kepada terduga pelaku serta perkembangan proses hukum.

Ahmad Dofir menyatakan siap mengawal kasus ini secara politik dan moral. Ia mengimbau warga tidak bertindak anarkis dan menyerahkan sepenuhnya proses kepada penegak hukum.

“Saya tidak akan pulang sebelum panjenengan merasa tenang. Saya tetap stand by,” ujarnya.

Kepala Desa Kaligoro, Heri, meminta warga tetap tenang dan terbuka dalam berdialog.

“Kami siap memfasilitasi komunikasi dan mendampingi keluarga korban hingga ke tingkat Polres. Tapi proses hukum harus dijalankan dengan hati-hati dan sesuai kewenangan,” tegasnya.

Pihak kepolisian masih menangani kasus tersebut. Pemerintah desa dan DPRD siap menjembatani warga dengan penegak hukum untuk memastikan transparansi dan keadilan ditegakkan. Warga berharap kematian Alfan ini tidak dibiarkan menjadi misteri. (Moek)