Warisan Budaya : Pemdes Puloniti Bina Kelompok Pengrajin Batik Tulis Majapahit

avatar beritaformat.com
  • URL berhasil dicopy
Hasil karya kelompok pengrajin batik tulis sanggar batik nities binaan Pemdes Puloniti (foto : sag-harry_beritaformat.com)
Hasil karya kelompok pengrajin batik tulis sanggar batik nities binaan Pemdes Puloniti (foto : sag-harry_beritaformat.com)

FORMAT MOJOKERTO | Kabupaten Mojokerto menjadi salah satu daerah penghasil kain batik di Jawa Timur. Kain batik Majapahit, adalah ciri khas produk kerajinan yang tumbuh di era kerajaan Majapahit, yang merupakan kerajaan terluas dan terhebat di Nusantara pada abad ke 13 hingga 15 Masehi. 

Sanggar Batik Nities, yang beranggotakan 8 orang, merupakan program pemberdayaan yang dilakukan oleh Pemerintah Desa (Pemdes) Puloniti, Kecamatam Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, untuk melestarikan warisan budaya yang sudah di akui oleh UNESCO (United Nations Educational, Scientific, And Cultural Organisation), sekaligus untuk meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

Pengerjaan batik tulis brand lokal Nities, yang berbahan dasar katun prima tidak lah mudah. Kain batik yang dijual seharga 350 ribu per lembar ini, membutuhkan proses produksi lebih dari 1 minggu untuk mengerjakan, mulai dari bahan mentah, hingga menjadi kain batik, dengan motif dan warna menyesuaikan pesanan pembeli. 

Kepala Desa Puloniti, Budi Yulianto, saat di wawancara awak media menyampaikan beberapa harapan dan keinginannya. Disamping membina ibu-ibu untuk menjadi pengrajin kain batik tulis, dirinya juga ingin kelompok binaannya mendapatkan perhatian lebih dari dinas terkait. Utamanya Diskoperindag (Dinas Koperasi, Perindustrian dan Perdagangan) Kabupaten Mojokerto. 

"Selama saya masih menjabat sebagai Kepala Desa, saya ingin melakukan pembinaan kepada warga, khususnya ibu-ibu. Jika ibu-ibu bisa maksimal dalam pengerjaan, tidak menutup kemungkinan akan membuka lapangan pekerjaan baru," harapnya, Kamis (30/5/2024). 

Budi Yulianto menambahkan, "memang ibu-ibu yang ikut pemberdayaan batik tulis ini, dalam posisi sebagai ibu rumah tangga (red_tidak bekerja). Dan alhamdulillah, sekarang bisa membantu suaminya menambah pundi-pundi rupiah, untuk memenuhi kebutuhan keluarga," imbuhnya. 

"Kelompok yang berjumlah 8 orang, sebagian sudah bisa mengerjakan batik tulis di rumah. Hal ini sesuai dengan tujuan awal saya, yaitu melakukan pemberdayaan untuk warga Puloniti," pungkasnya. (HB)