L-KPK Dan Media Sumenep Geram, Atas Perilaku Nakal Oknum SPBU Di Wilayahnya
BF, Sumenep – Pemerintah telah menaikkan Anggaran Subsidi BBM pada tahun 2022 sebesar 3 kali lipat, yaitu dari Rp152,5 triliun menjadi Rp502,4 triliun. Namun sebesar apapun usaha pemerintah untuk membantu rakyatnya, hal ini belum bisa maksimal di rasakan masyarakat menengah bawah, maraknya dugaan manipulasi yang di lakukan oknum pengusaha nakal dan oknum SPBU curang, semakin lengkap menambah penderitaan masyarakat kecil.
Kejadian ini membuat geram Lembaga Komunitas Pengawas Korupsi (L-KPK) Mawil Sumenep dan beberapa media untuk mensolidkan barisan dalam pertemuan rutin, guna membahas masalah migas, kususnya Solar Subsidi yang di duga di permainkan oleh mafia migas yang bekerja sama dengan oknum SPBU nakal di wilayah Kabupaten Sumenep. (16/11/22).
Pertemuan rutin ini digelar untuk melakukan kordinasi antara lembaga dengan sejumlah wartawan dalam rangka menindak lanjuti temuan dugaan penjualan BBM jenis Solar subsidi pada jirigen plastik, yang di lakukan di salah satu SPBU Kalianget, hal ini terjadi di duga akibat minimnya pengawasan dari pihak terkait, sehingga terindikasi ada dugaan permainan antara pihak oknum SPBU dan pembeli BBM bersubsidi untuk meraup keuntungan pribadi.
Pertemuan yang di prakarsai oleh Pimpinan Redaksi media Suarademokrasi.id, Erfandi dan L-KPK Mawil Sumenep, Sukarman, selaku koordinator di lapangan, bertempat di sekretariat L-KPK Mawil Sumenep yang beralamat di jalan Raya Kalianget Desa Kalianget Barat Kecamatan Kalianget Kabupaten Sumenep, pada Minggu (13/11) malam.
Dalam sambutannya, Erfandi menyampaikan bahwa, "Media dan Lembaga harus bisa bersatu, jangan sampai mau diadu domba oleh pihak-pihak yang hanya memanfaatkan, untuk kepentingan pribadi dan kelompoknya saja".
Jika ada persoalan atau temuan seperti ini, kita harus rapatkan barisan, dan kita wajib kawal ketat persoalan BBM ini agar, tidak di manfaatkan para mafia BBM". Tegas Erfandi
Masih Erfandi, dengan adanya bahasa kasar yang di lontarkan oleh AS, orang yang di duga membeli BBM Solar bersubsidi dengan ratusan jerigen dengan total ±4.830 liter tersebut, dan di muat pada perahu kayu yang bersandar di sungai Nambakor Saronggi, yang mana sempat menjadi sorotan awak media dan Lembaga, harus kita tindak lanjuti.
Kita pelaku media serta teman lembaga saat menjalankan tugas profesi, jangan takut dengan adanya bahasa kasar atau ancaman apapun di sampaikan oleh AS, karena tugas profesi kita sebagai sosial kontrol di lindungi oleh undang-undang. Pungkas Erfandi.
Sedangkan berdasar bukti rekaman pembicaraan yang di duga suara AS dengan media, terkesan tidak terima kepada media dan Lembaga di saat kita klarifikasi mobil pickup yang mengangkut Jerigen yang terisi BBM solar bersubsidi yang di duga sengaja di sembunyikan.
Kamu sebagai media dan Lembaga jangan curiga sembarangan, dimana kamu sekarang, sudah ketemu aja saya dengan sampean, bilang di sembunyikan-sembunyikan tidak bagus itu. Ucap AS dengan nada lantang yang sempat terekam salah satu handphone milik rekan media.
Selain itu, AS juga menyampaikan di beberapa media online bahwa, dirinya tidak terima dengan tudingan tersebut. Saya tidak terima dengan tudingan itu !
Kalau AS merasa benar atau tidak melakukan itu, kita buktikan saja kebenaran terkait pembelian BBM solar bersubsidi yang di isi pada ratusan jerigen tersebut, jangan malah berkoar-koar di media, hal ini terkesan mengadu domba antar media. Sampai Erfandi.
Salah seorang wartawan senior media Newspatroli.com yang merupakan warga Kalianget Timur menyampaikan penjualan BBM Solar bersubsidi sekitar Rp. 7.200,- per liter.
Ayo teman-teman media dan LSM di Kalianget harus kompak dan bersatu! Kita kawal persoalan BBM bersubsidi ini sampai tuntas! Kasihan masyarakat di kepulauan, Solar langkah dengan harga Rp.10.000,- per liter. Sedangkan oknum SPBU menjual Solar Rp.7.200,- per liter, padahal Harga Eceran Tertingi (HET) dari Pertamina Rp. 6.800,- per liter, berapa kira-kira keuntungan yang sudah di terima oleh oknum petugas SPBU tersebut ? Pungkasnya dengan kekecewaan.
Sukarman dari L-KPK Mawil Sumenep, meminta persoalan BBM bersubsidi ini untuk di tindaklanjuti sampai ada titik terang.
Kalau sudah seperti ini, kita selaku lembaga dan media sebagai putra Kalianget harus kompak dan bersatu untuk menyikapi persoalan BBM bersubsidi ini, kalau perlu sampai kepelaporan atas dugaan tindak pidananya, agar kita tidak diremehkan orang luar seperti AS yang sok mentang-mentang itu. Tegas Sukarman.
Pihak Syahbandar juga harus kooperatif dan melakukan pengecekan barang yang akan dimuat perahu tersebut, sesuai apa tidak dengan surat ijin berlayar yang di keluarkannya, jangan sampai asal-asalan. Karena dalam pantauan di lapangan kemarin tidak pernah terlihat petugas Syahbandar yang melakukan pengawasan di lapangan. Ucap Sukarman.
Pada akhir acara, L-KPK Mawil Sumenep dan beberapa awak media sepakat akan bersama-sama mendesak pemerintah Kabupaten Sumenep untuk melakukan Audiensi dengan pihak terkait agar, semua pihak paham terhadap regulasi penyaluran BBM Subsidi pada masyarakat menengah ke bawah secara tepat dan benar. (Mt/Can).
Editor : Redaksi