Teror Warga Anti Tambang Ilegal di Parimo: Negara Jangan Kalah dari Premanisme

Reporter : Redaksi
Ketua LMP Parigimoutong, Fadli Arifin Azis (foto : asri/enos_beritaformat)

Ini bukan soal siapa yang diuntungkan dari teror terhadap warga yang kritis, dan yang terjadi bukan sekadar kriminalitas, melainkan dugaan pembungkaman suara rakyat pada Minggu dini hari (29/3), saat Moh. Yusup Posuma diserang di rumahnya, di Desa Tirtanagaya, Kecamatan Bolano Lambunu, wilayah yang lama disorot terkait aktivitas PETI.

Sikap kritis terhadap tambang ilegal diduga dianggap ancaman. Dengan cara brutal, terduga pelaku melakukan perusakan rumah dan kendaraan korban, hingga menyebabkan trauma pada anak korban yang masih berusia 3 tahun.

Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Dua Perkara di Banggai

Markas Cabang Laskar Merah Putih (LMP) Parigi Moutong menilai aksi ini sebagai bentuk intimidasi sistematis, bukan insiden biasa. Ketua LMP, Fadli Arifin Azis, menegaskan bahwa kekerasan tersebut mencerminkan upaya membungkam warga yang menolak praktik tambang emas tanpa izin.

“Ini bukan kriminal biasa. Ini pesan teror bagi siapa pun yang berani melawan PETI,” tegasnya. Senin (30/3/2026).

Dampak aksi ini tak berhenti pada kerugian materiil. Seorang anak korban dilaporkan mengalami trauma serius hingga harus dirawat di Puskesmas. Fakta ini memperlihatkan bahwa pelaku tidak hanya menyerang properti, tetapi juga menghancurkan rasa aman warga sipil.

Lebih jauh, LMP mencium adanya dugaan relasi gelap antara aktivitas PETI dan perlindungan oknum tertentu. Jika benar, maka kasus ini bukan hanya soal hukum, tetapi juga krisis integritas aparat.

Baca juga: Kades Malalan Klarifikasi Keterlambatan BLT Tahap I 2026, Penyaluran Tuntas ke 8 KPM

Dalam kacamata watchdog, ini ujian nyata bagi penegakan hukum. Apakah aparat berdiri di pihak warga atau tunduk pada jaringan ilegal?

LMP mendesak Kapolda dan Kapolres Parigi Moutong untuk tidak berhenti pada pelaku lapangan, tetapi mengungkap aktor intelektual di balik teror.

Jika negara gagal hadir, maka yang tumbuh adalah rasa takut dan pembiaran. Dan ketika suara kritis dibungkam dengan kekerasan, demokrasi lokal sedang berada di ujung tanduk.

Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban

Teror terhadap warga yang menolak tambang ilegal adalah sinyal bahaya. Jika aparat lamban atau abai, publik berhak curiga, 'siapa sebenarnya yang dilindungi?'

Penegakan hukum harus tegas, atau kepercayaan masyarakat akan runtuh!

Reporter: Enos/Asri
Editor: W13D
Kategori: Hukum
Lokasi: Parigimoutong, Sulawesi Tengah
Sumber: Opini

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru