Sumur Migas ‘Sesak’ di Permukiman, Warga Kamiwangi Hirup Bau Gas Bertahun-Tahun

Reporter : Redaksi
Gambar ilustrasi Redaksi beritaformat

Puluhan warga Desa Kamiwangi, Kecamatan Toili Barat, Kabupaten Banggai, mengeluhkan bau gas menyengat yang diduga berasal dari aktivitas sumur migas milik PT Pertamina EP Donggi Matindok. Bau tersebut disebut semakin parah setiap enam bulan sekali saat proses pencucian sumur dilakukan.

Sedikitnya 30 jiwa, termasuk anak-anak, yang tinggal di sekitar lokasi sumur mengalami gangguan kesehatan ringan hingga sedang seperti mual, pusing, dan gangguan tidur.

Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Dua Perkara di Banggai

“Bau ini bikin mual, apalagi saat cuci sumur. Anak-anak sampai susah tidur,” ujar salah satu warga.

Di Desa Kamiwangi, dengan fakta lapangan menunjukkan tiga rumah warga berbatasan langsung dengan lokasi sumur migas.

Sejak sumur mulai beroperasi pada 2016 hingga saat ini, berlangsung bertahun-tahun tanpa penyelesaian konkret.

“Kami sudah lapor berkali-kali, tapi belum ada tanggapan. Hidup di sini seperti tercekik bau gas terus-menerus,” tambah warga lainnya.

Selain berdampak pada kesehatan, hasil investigasi menunjukkan lokasi sumur diduga tidak memenuhi standar jarak aman sebagaimana diatur dalam regulasi Kementerian ESDM yang mensyaratkan minimal 500 meter dari permukiman.

Baca juga: Kades Malalan Klarifikasi Keterlambatan BLT Tahap I 2026, Penyaluran Tuntas ke 8 KPM

Warga mengaku telah berulang kali mengadu, namun tidak ada respons nyata dari pihak perusahaan. Hingga berita ini diterbitkan, pihak PT Pertamina EP Donggi Matindok belum memberikan klarifikasi resmi.

Temuan di lapangan mengarah pada indikasi dugaan pelanggaran standar jarak aman fasilitas migas, potensi kelalaian dalam pengelolaan dampak lingkungan, dan minimnya tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) terhadap warga terdampak.

Jika benar jarak sumur hanya berbatasan langsung dengan rumah warga, maka ini bukan sekadar keluhan lingkungan, melainkan potensi ancaman keselamatan.

Kasus ini mencerminkan satu hal, ketika industri berjalan tanpa kontrol ketat, warga menjadi korban paling nyata. Bau gas yang dihirup warga setiap hari bukan sekadar gangguan, itu adalah indikasi kegagalan sistem pengawasan. Lebih parah, ketika anak-anak harus tumbuh dalam lingkungan yang tercemar, maka yang dipertaruhkan adalah masa depan generasi.

Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban

Pertanyaan publik sederhana, mengapa sumur bisa sedekat itu dengan rumah warga?
Di mana peran pengawasan pemerintah?
Mengapa keluhan bertahun-tahun tidak ditindaklanjuti?

Jika negara dan perusahaan terus abai, maka wajar jika publik menilai, keuntungan industri lebih diutamakan daripada keselamatan rakyat.

Reporter: Arif
Editor: W13D
Kategori: Peristiwa
Lokasi: Banggai, Sulawesi Tengah
Sumber: Investigasi

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru