Sorotan terhadap kondisi permukaan Jalan Sintuwu–Karunia di Sulawesi Tengah turut mendapat tanggapan dari Ketua Koordinator NGO FORMAT, Mukti Wijaya, yang memiliki latar belakang pengalaman sebagai pelaksana proyek konstruksi jalan, gedung, dan jembatan di sektor swasta.
Menurut Mukti, fenomena tekstur kasar atau perubahan awal pada lapisan permukaan aspal setelah pekerjaan selesai merupakan hal yang secara teknis dapat terjadi pada fase awal operasional jalan, dan tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai kegagalan konstruksi.
Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban
“Dalam praktik konstruksi jalan, perlu dibedakan antara kerusakan struktural dan fenomena permukaan. Pengalaman saya di lapangan menunjukkan bahwa pada masa awal layanan, lapisan aus memang masih mengalami proses pemadatan alami akibat lalu lintas,” ujar Mukti, Sabtu (22/2/2026).
Ia menjelaskan, penilaian mutu jalan tidak cukup hanya berdasarkan observasi visual, melainkan harus melalui parameter teknis seperti kepadatan campuran, kadar aspal efektif, serta hasil uji lapangan.
“Indikator utama kegagalan itu pada struktur—misalnya deformasi permanen, retak buaya, atau penurunan lapisan. Kalau hanya tekstur atau butiran terbuka, itu belum tentu masalah mutu,” jelasnya.
Mukti menambahkan bahwa pada proyek peningkatan jalan (bukan pembangunan baru), kondisi lapisan lama yang masih dipertahankan dapat memengaruhi respons awal permukaan setelah pelapisan ulang.
Baca juga: WOM Finance Sampaikan Hak Jawab Terkait Pemberitaan Dugaan Penarikan dan Lelang Motor Nasabah
“Paket peningkatan biasanya tidak full-depth. Jadi interaksi antara lapisan lama dan baru juga memengaruhi performa awal. Ini aspek teknis yang sering luput dari penilaian publik,” katanya.
Meski demikian, Mukti menekankan bahwa setiap pekerjaan jalan tetap harus diuji melalui mekanisme mutu formal, seperti core drill, uji kepadatan, dan evaluasi campuran aspal, sebelum disimpulkan kualitasnya.
“Jika memang ada dugaan ketidaksesuaian, jalur yang tepat adalah audit teknis berbasis data uji, bukan hanya persepsi visual,” ujarnya.
Baca juga: Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Pria di Huntap Tompe Tewas Bersimbah Darah
Sebagai lembaga masyarakat sipil yang bergerak di bidang kontrol pembangunan, sosial, ekonomi, hukum dan pemerintahan, FORMAT, lanjut Mukti, tetap mendorong transparansi proyek infrastruktur publik, namun juga mengingatkan pentingnya objektivitas teknis dalam menilai mutu pekerjaan konstruksi.
“Kritik publik penting, tapi harus proporsional dan berbasis parameter teknik. Dengan begitu fungsi pengawasan masyarakat tetap konstruktif dan adil bagi semua pihak,” kata Mukti.
Reporter: Anjasman
Editor: W13D
Kategori: Daerah
Lokasi: Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara.
Editor : Redaksi