Kondisi asrama siswi dan rumah dinas guru SMA Negeri 14 Sigi, Sulawesi Tengah, yang dibangun secara kontraktual menggunakan Dana Alokasi Khusus (DAK) Fisik Tahun Anggaran 2023, kini menuai sorotan. Bangunan yang seharusnya menunjang akses pendidikan bagi siswi dari wilayah terpencil itu justru dinilai belum layak huni dan mulai mengalami kerusakan.
Hasil pantauan media di lokasi menunjukkan, asrama tidak dilengkapi fasilitas hunian dasar seperti ranjang dan lemari. Ruang-ruang tampak kosong, sementara perlengkapan tidur yang digunakan siswi diketahui berasal dari bantuan pribadi guru dan swadaya siswa.
Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban
Selain minim fasilitas, kondisi fisik bangunan juga memprihatinkan. Lantai utama terlihat amblas, menyebabkan sejumlah keramik terangkat. Rangka atap tampak terlalu renggang, sehingga tidak menopang beban secara optimal. Di beberapa titik, plafon terbuka dan rawan mengalami kerusakan lanjutan.
Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMA Negeri 14 Sigi, Elnita, membenarkan bahwa saat proses serah terima pekerjaan, pihak sekolah hanya menerima bangunan fisik, tanpa kelengkapan mebeleir.
“Yang kami terima hanya gedungnya fisiknya saja. Untuk fasilitas di dalam seperti ranjang dan lemari memang tidak ada,” ujar Elnita.
Ia juga menilai kerusakan yang terjadi tidak seharusnya muncul dalam waktu singkat jika kualitas struktur bangunan memenuhi standar teknis.
“Secara struktur seharusnya tidak seperti ini. Tapi karena rangkanya kurang dan jaraknya terlalu renggang, akhirnya ada bagian yang mulai rusak. Sempat diperbaiki kontraktor, namun karena sudah lewat masa pengawasan, sekarang muncul lagi kerusakan baru,” jelasnya.
Salah satu siswi penghuni asrama, Rastika, mengungkapkan bahwa dirinya bersama lima siswi lain telah hampir satu tahun menempati asrama. Mereka berasal dari daerah Moa dan Pipikoro, wilayah dengan keterbatasan akses pendidikan.
“Kasur itu dari guru-guru. Ada dari Ibu Agustina, ada juga dari Ibu Ibenita. Selebihnya dari pribadi,” tuturnya.
Ironisnya, para siswi mengaku terpaksa menggunakan dana Program Indonesia Pintar (PIP) untuk membeli lemari pakaian, meski bantuan tersebut seharusnya digunakan untuk kebutuhan pendidikan.
Baca juga: WOM Finance Sampaikan Hak Jawab Terkait Pemberitaan Dugaan Penarikan dan Lelang Motor Nasabah
“Kami sampai pakai uang PIP untuk beli lemari. Kalau tidak, baju cuma diletakkan di meja belajar dan gampang kena debu,” ungkap Rastika.
Keterbatasan daya listrik juga menjadi persoalan. Saat memasak menggunakan rice cooker, aliran listrik kerap padam karena daya dinilai tidak mencukupi kebutuhan asrama.
Terpisah, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah I, Kristi Aria Pratama, SH, M.Si, mengaku tidak pernah mengetahui adanya pembangunan asrama putri di SMA Negeri 14 Sigi sejak 2023 hingga 2025.
“Kami prihatin melihat kondisi yang disebut sebagai asrama tersebut. Saya baru mengetahui adanya asrama putri setelah menghubungi pihak sekolah. Bahkan dalam dua kali kunjungan ke sekolah, tidak pernah ada informasi terkait asrama,” ujarnya, Kamis (29/1/2026).
Kristi menegaskan, pembangunan sarana penunjang pendidikan seharusnya dikomunikasikan dan dikoordinasikan karena merupakan tanggung jawab bersama.
“Kasihan kalau anak-anak harus tidur di lantai. Ini akan menjadi perhatian khusus dan akan kami laporkan ke pimpinan. Kalau ada gedung penunjang, maka sarana dan prasarana harus dipenuhi agar bisa difungsikan secara layak,” pungkasnya.
Baca juga: Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Pria di Huntap Tompe Tewas Bersimbah Darah
Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Pendidikan
Lokasi: Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara
Editor : Redaksi