Empat Sekolah di Kawasan Transmigrasi Palolo Direhab, Guru Keluhkan Minimnya Fasilitas Dasar

Reporter : Redaksi
Kondisi SD Inpres Lembantongoa usai mengalami rehab (foto : agus_beritaformat)

Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigrasi (Disnakertrans) mulai melaksanakan rehabilitasi sejumlah sekolah di kawasan transmigrasi Palolo. Proyek yang bersumber dari APBN tahun 2025 itu mencakup perbaikan ruang kelas di SD Inpres Lembantongoa, SD Negeri Tokelemo SP 1 Lembantongoa, SD Inpres Ranteleda, serta SMP Satap Negeri 11 Sigi, dengan total anggaran Rp795 juta. Pekerjaan dilaksanakan oleh kontraktor CV Vallency.

Rehab fisik meliputi pergantian papan dinding, pengecatan atap dan dinding, serta kemungkinan perbaikan lantai sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.

Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban

Kondisi SDN Tokelemo usai di rehab (foto : agus_beritaformat)

Wakasek SD Negeri Tokelemo, Herman Butu, S.Pd, mengungkapkan rasa syukurnya atas bantuan yang baru pertama kali diterima sejak ia bertugas pada 2018.

"Kami hanyalah penerima manfaat. Ada banyak item yang direhab, mulai dari papan dinding hingga pengecatan. Kemungkinan lantai juga akan diperbaiki," ujarnya, Kamis (13/11).

Meski begitu, Herman menyebut masih banyak kebutuhan mendesak yang belum tersentuh, mulai dari terbatasnya ruang kelas hingga fasilitas sanitasi.

"Kami hanya memiliki lima ruang kelas dan kantor, sehingga perpustakaan terpaksa dijadikan ruang belajar. Kami juga berharap bantuan WC guru dan murid, karena sampai sekarang masih memakai WC darurat di perpustakaan," jelasnya.

Baca juga: WOM Finance Sampaikan Hak Jawab Terkait Pemberitaan Dugaan Penarikan dan Lelang Motor Nasabah

Kondisi serupa disampaikan Kepala SD Inpres Lembantongoa, Piter Bida, S.Pd., yang menilai rehab ruang kelas sangat membantu, mengingat kondisi bangunan sebelumnya memprihatinkan.

"Kami berterima kasih atas perhatian pemerintah. Tapi dengan segala keterbatasan, kami berharap ke depan ada bantuan untuk kantor, karena saat ini aktivitas guru masih memakai ruang kelas," tutur Piter.

Ia menambahkan, dengan jumlah siswa lebih dari 100 orang, kondisi sanitasi di sekolah itu sudah tak layak sehingga siswa harus menumpang buang air di rumah guru.

Baca juga: Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Pria di Huntap Tompe Tewas Bersimbah Darah

"Untuk buang air besar, siswa masih numpang di perumahan guru karena sarana sanitasi sekolah tidak memadai," ujarnya.

Rehab sekolah di kawasan transmigrasi Palolo ini diharapkan dapat meningkatkan kualitas pendidikan, namun kebutuhan fasilitas dasar seperti ruang belajar dan sanitasi masih menjadi perhatian yang harus segera dijawab pemerintah.

Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Pendidikan
Lokasi: Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara Kepala Sekolah SDN Tokelemo dan SD Inpres Lembantongoa

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru