Sabtu, 4 Oktober 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Sigi, Sulawesi Tengah | Kategori; Daerah | Penulis; Anjasman_Agus
Kepala Desa Baliase, Kecamatan Marawola, Sudirman L, mengungkapkan keprihatinannya terhadap rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga. Ia menilai, meskipun pemerintah desa telah menyediakan fasilitas penampungan, sebagian besar warga masih membuang sampah sembarangan, terutama pada malam hari saat pengawasan sulit dilakukan.
Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Dua Perkara di Banggai
“Sudah beberapa kali kami bersihkan, sudah kami himbau, bahkan linmas ikut berjaga, tapi tetap saja ada yang buang sampah sembarangan pada tengah malam,” ujar Sudirman saat dihubungi, Sabtu (4/10/2025).
Pemerintah Desa Baliase, kata Sudirman, telah menyediakan tempat penampungan sementara (TPS) di samping lapangan sepak bola. Warga juga dapat berlangganan layanan jemput sampah dengan membayar Rp35 ribu per bulan. Sampah dari TPS kemudian diangkut ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sigi.
Namun, dari sekitar 2.000 warga, hanya sekitar 500 orang yang bersedia berlangganan. Sebagian besar lainnya memilih membuang sampah ke lahan kosong, bahkan hingga ke wilayah perbatasan dengan Kota Palu.
Baca juga: Kades Malalan Klarifikasi Keterlambatan BLT Tahap I 2026, Penyaluran Tuntas ke 8 KPM
“Kalau sampah sudah menumpuk, pemerintah yang disalahkan. Padahal masyarakat sendiri yang buang sembarangan. Kadang kami bersihkan, warga yang punya sampah malah hanya menonton,” keluhnya.
Sudirman juga menyebut, sempat ada kerja sama dengan pihak ketiga dalam pengelolaan sampah. Namun, karena pelayanan tidak maksimal (red_kendaraan kerap rusak dan jadwal pengangkutan tidak teratur), kerja sama itu akhirnya dihentikan. Kini, pengelolaan dilakukan langsung oleh tim desa sejak empat bulan terakhir.
Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban
Kendati demikian, persoalan belum sepenuhnya teratasi. Fasilitas yang terbatas menjadi kendala utama. Menurut Sudirman, volume sampah di Desa Baliase membutuhkan sedikitnya dua kontainer per hari, sementara DLH Sigi baru bisa menyediakan satu kontainer.
“Harapan kami, ada tambahan kontainer, dan yang paling penting kesadaran warga harus ditingkatkan. Pemerintah sudah berusaha, tapi tanpa dukungan masyarakat, masalah sampah ini tidak akan selesai,” tegasnya.
Editor : Redaksi