Kesenian Ujung (Cambuk Rotan)

Lestarikan Budaya Leluhur, Warga Pekuwon Gelar Kesenian Ujung

beritaformat.com
Dua Jawara Saling Adu Cambuk Dalam Kesian Tradisional Ujung

Mojokerto,beritaformat.com - Bertempat di kediaman Dawa Johanes, warga RT 10 RW 05 Dusun Pekuwon Kecamatan Bangsal Kabupaten Mojokerto Jawa Timur, terlihat suasana ramai dan meriah sangan terasa, di sepanjang jalan desa, di sisi kanan dan kiri jalan selebar 5 meter tersebut, di penuhi berbagai penjual makanan.

Ratusan warga berkumpul mengelilingi sebuah panggung berukuran 5x5 meter tempat di gelarnya seni ujung yang merupakan seni budaya warisan leluhur. Sabtu,(12/11/22).

Baca juga: Pembagian Rapor SDN Gunung Gedangan 2 Dimeriahkan Karawitan Siswa

Riuh terdengar suara ’’Ayo gepuk, ojo loyo" (ayo pukul, jangan lemas), teriak seorang bapak yang mengenakan peci hitam dari bawah panggung untuk menyemangati dua orang yang bertarung di atas panggung.

Dari atas panggung tampak dua lelaki bertubuh kekar saling berhadapan, dengan tatapan tajam, keduanya seakan siap bertarung. Setelah seorang berpakaian hitam mengangkat tangan, keduanya saling melangkahkan kaki kedepan sambil mengangkat tangan yang memegang kayu rotan dan berjoget mengikuti irama karawitan yang mengalun.

Salah seorang pemain mencambuk tepat mengenai punggung hingga mengeluarkan darah, namun tidak terllihat rasa sakit, kedua pemain saling tersenyum, bahkan sesekali tertawa sembari berjoget. Setelah mencambuk, kini pemain tadi harus bersiap menangkis cambukan lawannya. Atraksi ini di lakukan secara bergantian.

Dengan menggunakan kayu rotan, kedua lelaki tersebut saling mencambuk secara bergantian. Setelah tercambuk ataupun mencambuk, kedua lelaki tersebut berjoget mengikuti irama lagu karawitan. Selain kedua ’’petarung’’, di atas panggung juga terdapat tiga lelaki berpakaian serba hitam, ketiga lelaki ini biasa disebut sebagai Kemlandang atau Juri dalam permainan seni Ujung. Salah satu dari Juri membawa bakul (tempat nasi,Red) yang didalamnya berisi beras kuning, sedangkan dua lainnya melihat apakah terjadi pelanggaran atau tidak.

’’Ayo beri semangat, tepuk tangannya,’’ ujar Juri kepada para penonton agar terus menyemangati para pemain, sementara keduanya berjoget setelah saling mencambuk, kedua pria yang bertarung saling cambuk ini, tak jarang, dari mereka mengeluarkan darah dari bekas luka cambukan kawannya. Namun hal tersebut tidak mengurangi rasa bahagia ataupun menimbulkan rasa takut bagi pemainnya.

Setelah hampir tiga menit saling adu cambukan, keduanya di pisahkan dan saling bersalaman tanpa adanya dendam. Tampak beberapa orang di bawah panggung, memberikan kulit pisang yang di tempelkan ke luka bekas cambukan rotan, ’’Ini gunanya untuk mempercepat sembuh luka,’’ ujar salah seorang pemain.

Baca juga: Desa Kauman Gelar Pawai Budaya HUT RI ke-80

Setelah kedua pemain turun dari panggung, kedua pria lainnya kembali naik panggung, kebanyakan para pemain adalah penonton pria, bahkan diantara mereka ada yang sudah lanjut usia dan anak-anak. Tentu saja lawan mereka di sesuaikan dengan umur.

’’Kesenian ini bukanlah pertandingan, jadi tidak ada yang menang ataupun kalah,’’ ujar Sri Waluyo Widodo, Pimpinan Paguyuban Seni Ujung Moyang Mulia.

Menurutnya Widodo, kesenian Ujung adalah peninggalan nenek moyang kita jaman dahulu kala. Awalnya, kesenian peninggalan kerajaan Majapahit ini merupakan suatu ritual yang bertujuan untuk meminta hujan pada Tuhan Yang Maha Esa, tetapi karena perkembangan jaman, seni ujung di jadikan suatu kesenian yang perlu di lestarikan, ujarnya sambil tersenyum.

Lebih lanjut, Sri Waluyo Widodo menyampaikan, di dalam Seni Ujung tidak ada unsur permusuhan ataupun unsur balas dendam. Seni Ujung juga tidak ada yang kalah atau menang, ini hanya sebatas seni.

Baca juga: Meriah, Kirab Tumpeng Ke-4 Desa Badang Warnai HUT RI ke-80

Meski saling mencambuk, kesenian ini juga memiliki peraturan. Daerah badan yang boleh di bonggol (di cambuk) hanyalah bagian badan saja, sedangkan bagian kepala,leher dan bagian di bawah badan tidak boleh dipukul, ujarnya.

Kedua pemain juga mendapatkan upah yang di berikan setelah permainan, satu kali permainan biasanya tiap pemain akan di berikan honor sebesar Rp.10.000, honor tersebut akan ditambah hingga Rp.25.000 s/d 50.000 jika keduanya sama baiknya, sebelum melakukan kesenian ini, biasanya di lakukan ritual yang bertujuan untuk keselamatan. ’’sebelum di lakukan acara Ujung, selalu diadakan bancaan (tasyakuran), proses ini biasanya seperti semacam tumpengan, tapi ada sandingannya yaitu, makanan yang diletakkan di sisi tumpeng seperti pisang, kelapa dan beras’’ jelasnya.

Sandingan yang di maksud memiliki arti di setiap makanan yang disajikan. ’’Gedhang (pisang), mempunyai arti Ndhang-ndhang, maksudnya agar keinginan yang diharapkan segera tercapai, wos (beras), maksudnya adalah menghilangkan rasa was-was atau rasa takut, sedangkan klopo (kelapa), artinya tidak terjadi apa-apa atau agar tidak ada sesuatu yang tidak di inginkan,’’ jelasnya.

Paguyuban kesenian Ujung yang di pimpinnya memang jarang melakukan pertunjukkan. ’’Dalam setahun paling hanya lima kali, itu juga kalau ada yang nanggap, (menyewa)’’ katanya.
Paguyuban yang dipimpin oleh Sri Waluyo Widodo memang paguyuban yang bertujuan untuk melestarikan kesenian Ujung. Paguyuban bernama MOYANG WIJAYA ini sudah lama berdiri. ’’Saya meneruskan tradisi ayah saya, sebelumnya yang mengurus paguyuban memang ayah saya,’’ Tutupnya. (Har/Sag).

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru