BERITA JAKARTA | Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan, bahwa telah terjadi gempa bumi dengan kekuatan magnitudo 4,8 yang mengguncang Kabupaten Sumedang, Jawa Barat. Minggu (31/12/2023). Hal ini disampaikan oleh BMKG pada konferensi pers yang dilaksanakan pada tanggal tersebut secara daring.
Kejadian ini disebabkan oleh sesar aktif yang belum terpetakan. Menurut Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono , gempa tersebut terjadi di kota Sumedang, sesuai dengan lokasi kerusakan, dan BMKG menekankan pentingnya memahami sesar gempa yang belum terpetakan, untuk mengurangi risiko korban jiwa dan memperhitungkan pembangunan di masa depan di Sumedang.
Baca juga: Banjir Rendam 43 Rumah di Gunung Sari
Daryono juga mencatat, gempa dangkal di Sumedang bisa menjadi berbahaya. Terutama, jika pusat gempa berada di area permukiman padat, yang tidak tahan terhadap gempa.
"Jadi, gempa ini terletak persis di kota Sumedang sesuai dengan lokasi kerusakan yang terjadi. Gempa tersebut dipicu oleh sesar aktif yang belum terpetakan,” kata Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono.
Daryono juga menjelaskan, bahwa gempa dangkal di Sumedang menimbulkan risiko yang signifikan, terutama jika pusat gempa terletak di daerah permukiman padat penduduk, memiliki kekuatan berskala besar, dan struktur bangunan yang tidak mampu menahan guncangan gempa.
Baca juga: Banjir Lumpur Tutup Jalur Palu–Donggala, Watusampu Kembali Jadi Titik Rawan
"Karena kedalamannya yang sangat dangkal, terjadi persoalan karena banyaknya rumah-rumah yang dibangun tidak tahan gempa," ujar Daryono.
Berdasarkan rekaman data BMKG, gempa pertama (M 4.1), berpusat di 6.48 LS dan 107.93 BT, pada kedalaman 10 kilometer. Gempa kedua (M 3.4) pada kedalaman 6 kilometer terjadi di titik 6.84 LS dan 107.34 BT, sementara gempa utama (main shock) atau M 4.8 berdekatan dengan pusat gempa sebelumnya di 6.85 LS dan 107.94 BT, dengan kedalaman 5 kilometer.
Pusat Pengendali dan Operasi (Pusdalops) BNPB mencatat, bahwa gempa kedua (M4.1) dirasakan cukup kuat oleh sebagian besar masyarakat Sumedang, menyebabkan kepanikan dan evakuasi warga dari ruangan. Tim BPBD sedang melakukan kajian dan pendataan dampak kerusakan, dengan laporan awal mencatat kerusakan ringan hingga sedang di beberapa rumah dan sekolah, khususnya di daerah Babakan Hurip, Sumedang.
Baca juga: Pemerataan Lahan Pascabencana di Sigi Capai 130 Hektare, Target Tuntas 150 Hektare Tahun Ini
Gempa M 4.8 juga menyebabkan keretakan pada "Cisumdawu Twin Tunnel" atau Terowongan Kembar Tol Cisumdawu, namun situasi lalu lintas dinyatakan masih aman. Rumah Sakit Umum Daerah Kecamatan Sumedang Selatan juga mengalami kerusakan ringan, dengan evakuasi sementara pasien dan petugas sebagai tindakan antisipatif.
Kepala Pelaksana BPBD Sumedang, Atang Sutarno, menegaskan bahwa kabar tentang gempabumi susulan lebih besar pada pukul 23.00 WIB adalah hoaks, dan masyarakat diminta untuk hanya mengikuti informasi resmi dari BMKG, BNPB, dan instansi pemerintah terkait.
Analisis Badan Geologi menunjukkan bahwa gempa ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif Cileunyi-Tanjungsari. Meskipun gempa ini tergolong kecil, masyarakat tetap diingatkan untuk tetap waspada dan mengikuti petunjuk BPBD setempat. Masa lalu Kabupaten Sumedang mencatat gempa merusak pada 1972 dan kejadian gempa pada tahun 2010 serta 2022, sehingga masyarakat diminta untuk mengungsi jika rumahnya rusak. (Luthfi)
Editor : Redaksi