Upaya meningkatkan produktivitas padi dan memperkuat ketahanan pangan nasional terus dilakukan melalui penerapan Pertanian Modern–Advanced Agricultural System (PM-AAS) di Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi. Program tersebut ditandai dengan tanam perdana padi sawah di lahan seluas 3 hektare milik Kelompok Tani Mutiara II, Desa Sibonu, Kamis (30/7/2026).
Kegiatan ini dihadiri Bupati Sigi yang diwakili Staf Ahli Bidang Pemerintahan Rahmad Iqbal, perwakilan BRMP Sulawesi Tengah, Dinas Pertanian, unsur TNI-Polri, Camat Dolo Barat, Pemerintah Desa Sibonu, penyuluh pertanian, Pupuk Indonesia, serta kelompok tani.
Baca juga: Polres Sisir Dua Lokasi PETI, Tambang Kosong, Excavator Raib
Koordinator Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Mantikole, Anjas, menjelaskan bahwa PM-AAS merupakan bagian dari program nasional yang mengintegrasikan teknologi budidaya modern dengan sistem tanam jajar legowo guna meningkatkan produktivitas padi secara lebih efektif, efisien, dan terukur.
"Yang kita kejar dari program ini adalah peningkatan produksi padi. Untuk tahap awal kami menanam di lahan sekitar tiga hektare di Desa Sibonu dengan menggunakan varietas Inpari 32," ujarnya.
Anjas mengatakan benih pada tahap awal masih berasal dari swadaya penyuluh bersama petani agar program dapat segera berjalan sambil menunggu dukungan pada tahap berikutnya. Ke depan, penerapan PM-AAS ditargetkan berkembang hingga sekitar 400 hektare di wilayah Kecamatan Dolo Barat melalui kolaborasi antara petani, pemerintah desa, pemerintah daerah, BRMP, dan Pupuk Indonesia.
Sementara itu, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Desa Sibonu, Jumadil, menegaskan bahwa keberhasilan PM-AAS tidak hanya ditentukan oleh penggunaan benih unggul, tetapi juga pengelolaan lahan yang tepat, termasuk pemberian pupuk kandang sebelum masa tanam untuk menjaga kesuburan tanah.
Baca juga: SD Inpres Kotapulu Direvitalisasi, APBN Rp600 Juta Dongkrak Fasilitas Belajar
"Setiap sebelum penanaman, lahan harus diberi pupuk kandang. Itu menjadi bagian penting dari metode ini agar kondisi tanah tetap baik," katanya.
Ia mengakui tantangan yang masih dihadapi adalah ketersediaan air dan sarana produksi. Meski demikian, pihaknya memilih memulai secara swadaya sebagai bentuk teladan bagi petani.
"Kalau penyuluh berani memulai dan menunjukkan hasilnya, petani akan lebih yakin. Karena itu kami memulai secara swadaya, mulai dari benih hingga pendampingan di lapangan," tambahnya.
Baca juga: Speedboat MISTER UN Ditemukan, Nahkoda Masih Hilang
Melalui demplot tersebut, BPP Mantikole berharap teknologi budidaya modern PM-AAS dapat diterapkan lebih luas di Kecamatan Dolo Barat sehingga mampu meningkatkan hasil panen padi, memperkuat kesejahteraan petani, serta mendukung program ketahanan pangan nasional secara berkelanjutan.
Reporter : Agus
Penyunting : W13D
Kategori : Ekonomi
Lokasi : Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber : Liputan
Editor : Redaksi