SMK Janur Persada di bawah naungan Yayasan Sepuluh Maret kini berada di ujung ketidakpastian. Secara faktual, sekolah tersebut telah berhenti beroperasi sejak tahun ajaran 2024–2025. Namun secara administratif, namanya masih tercatat aktif dalam sistem Data Pokok Pendidikan (Dapodik).
Fakta di lapangan menunjukkan, sekolah tersebut sudah tidak memiliki siswa maupun tenaga pengajar. Seluruh siswa telah lulus, sementara para guru sebagian besar berpindah ke sekolah lain setelah lulus seleksi PPPK.
Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban
Mantan Kepala SMK Janur Persada, Muhlis, memastikan bahwa aktivitas pendidikan di sekolah tersebut telah berhenti total.
“Sudah tidak ada aktivitas. Siswa habis, guru juga sudah tidak ada. Jadi memang tidak bisa dipertahankan lagi,” ujar Muhlis saat ditemui, Jumat (24/04/2026).
Tak hanya itu, dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan belajar mengajar bahkan tidak memiliki gedung sendiri dan hanya menumpang di SMK Lando Bulili, Desa Lolu, Kecamatan Sigi Biromaru.
“Secara sistem masih terdaftar, tapi realitanya sudah tidak ada. Bahkan bangunan sendiri tidak ada, hanya numpang,” jelasnya.
Kondisi ini disebut telah berlangsung sejak pascabencana 2018, saat pihak yayasan yang dipimpin Rahmawati, yang berdomisili di Makassar, tidak lagi aktif dalam pengelolaan sekolah.
“Sejak pascabencana 2018 pihak yayasan tidak pernah muncul. Kami di sekolah sempat bingung mengambil langkah,” beber Muhlis.
Baca juga: WOM Finance Sampaikan Hak Jawab Terkait Pemberitaan Dugaan Penarikan dan Lelang Motor Nasabah
Di sisi lain, Dinas Pendidikan Provinsi Sulawesi Tengah mengaku belum dapat menutup secara resmi status sekolah tersebut karena belum adanya surat penutupan dari pihak yayasan.
Pengelola Dapodik Disdik Sulteng, Tafsir, menegaskan bahwa secara sistem data memang terbaca kosong, namun proses administrasi penutupan tetap mensyaratkan dokumen resmi dari penyelenggara.
“Dapodik terbaca kosong, tapi secara administrasi belum ditutup. Kami masih menunggu surat resmi penutupan dari Yayasan Sepuluh Maret,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Pembinaan SMK Disdik Sulteng, Edy Akas, menyatakan pihaknya akan segera melakukan pengecekan langsung ke lapangan.
Baca juga: Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Pria di Huntap Tompe Tewas Bersimbah Darah
“Saya baru menjabat dan rencananya hari Senin akan turun langsung melihat kondisi di lapangan,” katanya.
Kondisi SMK Janur Persada ini menyoroti lemahnya sinkronisasi antara data administratif dan fakta di lapangan. Sekolah yang sudah tidak beroperasi tetap tercatat aktif, menimbulkan potensi bias data dalam sistem pendidikan.
Kasus ini menjadi alarm serius bagi tata kelola pendidikan, khususnya sekolah swasta. Ketergantungan pada laporan administratif tanpa verifikasi faktual membuka ruang bagi munculnya “sekolah bayangan”, hidup di sistem, tetapi mati di kenyataan.
Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Pendidikan
Lokasi: Palu, Sulawesi Tengah
Sumber: Liputan
Editor : Redaksi