Sabtu, 4 Oktober 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Mojokerto, Jawa Timur | Kategori; Politik | Penulis; Redaksi
Konflik internal Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pasca Muktamar ke-10 di Ancol kembali membuka luka lama partai berlambang Ka’bah ini. Kericuhan dan lahirnya dua kubu kepengurusan yang saling klaim tidak hanya memperburuk citra PPP, tetapi juga meruntuhkan kepercayaan masyarakat yang semestinya menjadi basis kekuatan partai.
Baca juga: Kades Kepuhanyar Bantah Dugaan Fee Rp25 Juta, Paving Pasinan Dipastikan Kembali Dipasang
Mukti Wijaya, mantan Sekretaris DPC PPP Kota Mojokerto periode 2010–2015, dengan tegas menyampaikan pandangannya. Menurutnya, siapapun yang telah ditetapkan sah sebagai pengurus oleh lembaga negara wajib dihormati bersama. Hanya dengan menerima realitas kepemimpinan yang sah, PPP bisa kembali melangkah ke depan dan bertahan menuju Pemilu 2029.
Fakta di lapangan sudah berbicara. Dualisme kepemimpinan di tubuh PPP terbukti membawa dampak serius. Di Kota Mojokerto, misalnya, suara PPP anjlok hingga hanya mampu meraih satu kursi. Padahal, sebelum konflik pasca Muktamar Bandung, PPP masih bisa menyumbang dua kursi di parlemen. Perpecahan jelas menelan ongkos politik yang mahal.
Baca juga: Amin Mabrur Terpilih Jadi Kades Sumokembangsri 2026–2034
Mukti menegaskan, seluruh pengurus PPP dari tingkat nasional hingga daerah harus kembali bersatu dan membangun komitmen bersama. Tanpa persatuan, mustahil PPP bisa menghadapi derasnya arus kompetisi di tengah menjamurnya partai politik baru.
Sebagai penutup, Mukti menyampaikan ucapan selamat atas disahkannya Muhammad Mardiono sebagai Ketua Umum PPP periode 2025–2030. Harapannya, di bawah kepemimpinan baru ini, PPP dapat kembali membesar dan benar-benar hadir sebagai saluran aspirasi umat.
Baca juga: DPC PDI Perjuangan Mojokerto Lantik 18 PAC, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput
PPP punya sejarah panjang dan kontribusi besar dalam politik Indonesia. Namun, masa depan partai ini hanya bisa diselamatkan jika para kader dan elitnya berani menanggalkan ego, menghentikan konflik, dan bersatu untuk tujuan bersama: memperjuangkan umat, bukan kursi.
Editor : Redaksi