Kamis, 25 September 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Pasangkayu, Sulawesi Barat
Kategori; Peristiwa | Penulis; Anjas/Asri
Baca juga: KDKMP Pertama di Bolano Mulai Dibangun di Wanamukti Utara
Duka mendalam menyelimuti keluarga besar PT Permodalan Nasional Madani (PNM) setelah karyawatinya, Hijrah (19), ditemukan tewas di sebuah kebun kelapa milik warga di Desa Sarjo, Kecamatan Sarjo, Kabupaten Pasangkayu. Korban yang baru lima bulan bekerja itu pulang tinggal jasad, menimbulkan pertanyaan serius tentang keselamatan pekerja lapangan.
Hijrah merupakan anak pertama dari Ririn (38), warga Dusun Povala, Desa Mamponu. Harapan keluarga untuk memperbaiki ekonomi justru berakhir duka.
“Hijrah anak pertama saya. Dia pergi bekerja dengan niat baik, tapi pulang tinggal jasad,” ucap Ririn sambil menangis. Rabu (24/9).
Ibunda korban juga menuding perusahaan lalai mengatur jam kerja karyawan.
Baca juga: Halal Bihalal Tampaure Perkuat Persatuan, Warga Kompak Rayakan Kebersamaan
“Masa jam 10 malam masih disuruh bekerja. Kalau setoran nasabah tidak cukup, Hijrah harus nombok pakai uang sendiri. Dari mana anak saya ambil uang? Kasihan sekali anakku,” tambahnya dengan suara terisak.
Manajer PNM Cabang Banawa Pasangkayu, Gufran, menyampaikan belasungkawa atas wafatnya Hijrah.
“Kami sangat berduka dan turut berbelasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga korban. Hijrah adalah bagian dari keluarga besar PNM yang berdedikasi. PNM tetap memberikan santunan, menanggung biaya duka, bahkan akan memberikan hak layaknya karyawan tetap meski status hijrah masih kontrak.” ujarnya.
Baca juga: Bentrok Berdarah Sengketa Sawit di Perbatasan Sulbar–Sulteng
Namun, sorotan publik kini mengarah pada lemahnya perlindungan bagi karyawan lapangan, terutama perempuan.
“Kalau sampai pegawai resmi bisa jadi korban pembunuhan, bagaimana dengan jaminan keselamatan lainnya? Perlu perlindungan nyata, bukan sekadar janji,” tegas keluarga korban.
Kasus ini tak hanya soal kriminalitas, melainkan alarm keras tentang rapuhnya sistem perlindungan pekerja lapangan. Publik kini menanti: akankah PNM dan pemerintah menjadikan tragedi Hijrah sebagai titik balik perbaikan, atau sekadar menambah daftar panjang pekerja yang gugur tanpa perlindungan?
Editor : Redaksi