Disiplin Jadi Penentu, Peserta Magang ke Jepang Dicoret karena Merokok Saat Tunggu Wawancara

Reporter : Redaksi
Kepala Dinas Nakertrans, Koperasi dan UMKM, Setyo Sugiarto (foto : ashari_beritaformat.com)

Kamis, 10 Juli 2025 | Redaksi BERITA FORMAT | Palu, Sulawesi Tengah

Kategori: Ekonomi | Penulis: Ashari

Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban

Suasana ruang tunggu seleksi peserta magang ke Jepang di Kota Palu, Sulawesi Tengah, berlangsung cukup tertib. Puluhan peserta tampak antusias mengikuti proses wawancara oleh tim teknis dari perusahaan penerima tenaga kerja magang di Jepang.

Para peserta magang yang telah melalui pelatihan dari Lembaga Pelatihan Kerja (LPK) terlihat sangat siap dan mampu menjawab pertanyaan dengan baik saat wawancara berlangsung. Proses seleksi ini diawasi langsung oleh pihak LPK dan tim perusahaan Jepang.

Namun, ketegangan muncul ketika beberapa peserta tertangkap kamera CCTV sedang merokok di dalam area ruang tunggu yang berdekatan dengan ruang wawancara. Akibat pelanggaran etika ini, nama mereka langsung dicoret dari daftar peserta magang oleh tim perekrut, dan mereka pun dipulangkan ke daerah masing-masing.

Menurut pihak perusahaan, tindakan merokok di luar tempat yang disediakan menunjukkan sikap tidak disiplin, yang bertentangan dengan budaya kerja di Jepang yang sangat menjunjung etika dan sopan santun.

Baca juga: WOM Finance Sampaikan Hak Jawab Terkait Pemberitaan Dugaan Penarikan dan Lelang Motor Nasabah

Kepala Dinas Nakertrans, Koperasi dan UMKM Kota Palu, Setyo Sugiarto, menegaskan pentingnya sikap dan perilaku selama proses seleksi.

"Merokok boleh, tapi bukan saat menunggu wawancara apalagi di area terlarang. Disiplin dan sopan santun adalah penilaian utama. Sekalipun mahir bahasa Jepang, tanpa sikap yang baik, peserta tetap bisa gagal," tegasnya.

Tyo, sapaan akrabnya juga menambahkan bahwa peserta magang yang lolos akan kembali dilatih selama tiga bulan di Cibinong sebelum menandatangani kontrak kerja resmi dengan perusahaan Jepang.

Baca juga: Diduga Dikeroyok Empat Rekannya, Pria di Huntap Tompe Tewas Bersimbah Darah

“Kami tegaskan ke semua peserta: jaga sikap, bukan hanya skill yang dinilai, tapi karakter. Jepang butuh pekerja yang beretika, bukan hanya yang pintar,” imbuhnya.

Antusiasme generasi muda Palu untuk bekerja di Jepang tetap tinggi. Namun, peristiwa ini menjadi pengingat bahwa keberangkatan ke luar negeri bukan hanya soal kemampuan teknis, tetapi juga kedewasaan dalam bersikap.

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru