FORMAT MOJOKERTO | Ribuan warga mengikuti prosesi Ruwat Agung Petirtaan Jolotundo di kawasan Candi Jolotundo, Trawas, Mojokerto, sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan terhadap tirta suci yang diyakini membawa berkah kehidupan.
Kegiatan ini diinisiasi oleh masyarakat Dusun Biting, Desa Seloliman, dengan keterlibatan tokoh adat, komunitas budaya dari berbagai daerah, dan Forkopimda Kabupaten Mojokerto.
Baca juga: Kades Kepuhanyar Bantah Dugaan Fee Rp25 Juta, Paving Pasinan Dipastikan Kembali Dipasang
Prosesi berlangsung pada Sabtu (28/6/2025) di kompleks Candi Jolotundo, Kecamatan Trawas, Mojokerto, dan telah diawali dengan ritual unduh tirta sejak sepekan sebelumnya.
Tradisi tahunan ini dilaksanakan sebagai simbol rasa syukur atas limpahan air suci Jolotundo yang dianggap sebagai sumber kehidupan, serta untuk melestarikan warisan budaya dan nilai-nilai ekologis.
Baca juga: Amin Mabrur Terpilih Jadi Kades Sumokembangsri 2026–2034
Acara diawali dengan Kirab Agung Budaya Nusantara dari Lapangan Sri Rahayu menuju candi, diiringi warga berpakaian adat, membawa sesajen, melepas burung, dan menanam pohon. Puncaknya adalah penyatuan air suci dari empat penjuru Gunung Penanggungan yang kemudian didoakan dan dibagikan kepada warga sebagai simbol berkah.
Selain menguatkan spiritualitas dan nilai tradisi, acara ini mempererat solidaritas warga lintas daerah serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga alam dan sumber daya air.
Baca juga: DPC PDI Perjuangan Mojokerto Lantik 18 PAC, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput
Ketua pelaksana dan Pemangku Adat Jolotundo, Romo Mukade mengatakan, “Ini bagian dari warisan leluhur yang tak hanya melibatkan spiritualitas, tapi juga kesadaran ekologis. Tirta Jolotundo adalah sumber kehidupan bagi masyarakat.” jelasnya.
Acara juga dimeriahkan dengan pertunjukan seni tradisional seperti ujung, bantengan, dan wayang kulit semalam suntuk, memperkuat semangat pelestarian budaya dan cinta lingkungan. (Clara)
Editor : Redaksi