FORMAT SIDOARJO | Tak kurang 200 orang budayawan Sidoarjo, menggelar Rembug Budaya dengan tema 'Posisi Budayawan Dalam Lingkaran Pilkada Sidoarjo' pada, Minggu (13/10/2024) malam, di salah satu cafe Lingkar Timur. Diskusi nampak gayeng dengan kehadiran Narasumber yang berkompeten.
Ki Bagong Sabdo Sinukarto, Ketua FPK (Forum Pembaruan Kebangsaan) Jatim, menyinggung tentang posisi budayawan di saat Pilkada, cenderung banyak di manfaatkan untuk kepentingan sesaat dan, hanya sebagai vote getter atau pendulang suara. Setelah itu, banyak diabaikan.
Baca juga: Kades Kepuhanyar Bantah Dugaan Fee Rp25 Juta, Paving Pasinan Dipastikan Kembali Dipasang
"Budayawan dalam ajang pemilihan apapun sudah lazim hanya dijadikan vote getter, laksana daun salam, sebelum masak dicari, setelah matang, dibuang," ungkapnya.
Sementara itu, Hudiono, mantan Kepala Dinas pendidikan dan kebudayaan Propinsi Jawa Timur berharap, calon Bupati Sidoarjo lebih aspiratif dalam mengakomodir kebutuhan para seniman termasuk, sarana dan prasarana bahkan regulasi.
Baca juga: Amin Mabrur Terpilih Jadi Kades Sumokembangsri 2026–2034
"Saya akan sampaikan semua permasalahan kebudayaan yang muncul pada malam ini, kepada bupati terpilih karena, semua ini demi pemajuan kebudayaan di Sidoarjo" Ujar Ketua Kosgoro Jatim ini.
Ribut Wiyoto, Ketua Dewan Kesenian Daerah (Dekesda) Sidoarjo, menekankan pada revitalisasi alun-alun Sidoarjo sebagai etalase kebudayaan, dengan membangun tempat pementasan, ruang pamer dan utamanya pembangunan Gedung Kesenian.
Baca juga: DPC PDI Perjuangan Mojokerto Lantik 18 PAC, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput
"Alun-alun harus jadi etalase dan simbol kebudayaan Sidoarjo, kalau benar-benar ingin jadi kota Budaya," tutur pria kalem ini.
Banyak hal menarik dari hasil rembug budaya tersebut, di antaranya dari beberapa penanya yang pada pokoknya berharap, pemerintahan yang baru lebih memperhatikan nasib kebudayaan dan juga budayawannya. (Agus/Huri)
Editor : Redaksi