FORMAT MOJOKERTO | Oktavia Dwi Rachmadani (18), remaja yatim piatu, warga Lingkungan Kuwung, Kelurahan Meri, Kota Mojokerto ini, kini tak berdaya meratapi penyakitnya yang, tak kunjung mendapatkan tindakan medis.
Dua tahun sudah, tepatnya tahun 2022, sejak divonis dokter dirinya terkena tumor uterus, remaja yang masih belia ini harus putus sekolah dan, hanya bisa pasrah menerima penyakit yang semakin hari menggerogoti tubuhnya.
Baca juga: Kades Kepuhanyar Bantah Dugaan Fee Rp25 Juta, Paving Pasinan Dipastikan Kembali Dipasang
"Awal munculnya tidak tahu dan, tidak pernah mengeluh apapun kepada saya. Waktu itu tahunya ketika, Okta hendak memakai rok (red_seragam sekolah) SMK. Okta merasakan, ada benjolan yang aneh diperutnya," tutur Septia, kakak kandung Okta, Sabtu (31/8/2024).
Lanjut Septia, kakak Okta yang sudah mempunyai 2 orang anak dan, hanya bekerja sebagai penjaga kios ini menyampaikan, mengetahui jika ada benjolan di perut adiknya, Septia segera membawa Okta ke Puskesmas setempat. Kemudian pihak Puskesmas memberikan surat rujukan ke RS. Gatoel agar, Okta segera mendapatkan penanganan. Namun, alat medis di RS. Gatoel belum memadai sehingga, Okta diberikan surat rujukan lagi ke RSPAL dr. Ramelan Surabaya.
"Sama dokter Surabaya, ada hasil laboratorium. Kalau orang awam kayak saya sendiri bacanya, memang ke arah tumor. Tidak tahu tumor ganas atau, tumor apa," ungkapnya.
Baca juga: Amin Mabrur Terpilih Jadi Kades Sumokembangsri 2026–2034
Menurut penuturan Septia, adiknya memang Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) sehingga, tidak bisa menjelaskan sakit yang dirasakannya.
Hingga saat ini, Okta belum mendapatkan tindakan medis (operasi). Okta hanya mendapat obat penghilang nyeri dan, pembengkakan.
"Belum ada sama sekali, cuma tes laboratorium. Saya waktu mengantar adik kontrol pertama, sempat bertanya pada dokter, ‘dok, apa tidak ada harapan sedikit saja?, tidak ada!, jawab dokter," tutur Septia penuh haru.
Baca juga: DPC PDI Perjuangan Mojokerto Lantik 18 PAC, Perkuat Konsolidasi hingga Akar Rumput
Okta terpaksa harus, putus sekolah sejak 2023 lalu. Septia menjelaskan, tidak ada biaya untuk membiaya pendidikan sang adik. Penghasilannya sebagai penjaga kios, terbilang pas-pasan. Sementara, kebutuhan harian Okta seperti, popok sangatlah memberatkan dirinya yang, kini jadi tulang punggung keluarga.
"Dapat KIS iya, kemarin sempat teman saya membuka donasi. Kemudian dari kelurahan dan, teman-teman Bu Lurah juga ada bantuan biaya," ungkapnya.
Septia hanya bisa berharap, ada tangan-tangan Tuhan melalui, Dinas terkait yang bisa memberikan pertolongan untuk adiknya agar, bisa segera di operasi dan di angkat tumornya. Septia ingin adiknya bisa hidup normal seperti remaja seusianya. (Mohack)
Editor : Redaksi