10 Sekolah Morowali Jadi Percontohan Program DAU Rp110 Miliar

avatar Redaksi
  • URL berhasil dicopy
Progres lanjutan tahap dua pembangunan SDN Labota Kecamatan Bahodopi (foto : agus_beritaformat)
Progres lanjutan tahap dua pembangunan SDN Labota Kecamatan Bahodopi (foto : agus_beritaformat)

Morowali || Sebanyak 10 sekolah di Kabupaten Morowali, Sulawesi Tengah, menjadi lokasi percontohan program bantuan sarana dan prasarana pendidikan yang bersumber dari Dana Alokasi Umum (DAU) dengan nilai sekitar Rp110 miliar.

Program tersebut merupakan kebijakan Pemerintah Kabupaten Morowali di bawah kepemimpinan Bupati Morowali Iksan Baharuddin Abdul Rauf dan dilaksanakan secara kontraktual.

Kepala Bidang Prasarana dan Sarana Dinas Pendidikan Daerah Kabupaten Morowali, Arnolis Hamid, mengatakan program tersebut menyasar lima kecamatan dengan masing-masing dua sekolah sebagai lokasi percontohan.

“Ini merupakan program Bupati Morowali yang menyasar lima kecamatan. Setiap kecamatan ada dua sekolah yang diberikan bantuan sebagai percontohan,” kata Arnolis, Senin (5/10/2026).

Lima kecamatan tersebut yakni Bungku Tengah, Bumi Raya, Witaponda, Bahodopi dan Bungku Pesisir.

Di Kecamatan Bungku Tengah, program menyasar SDN 6 Bungku dan SMPN 2 Bungku. Kecamatan Bumi Raya meliputi SMPN 1 Bumi Raya dan SDN 1 Bahonsuai.

Selanjutnya, Kecamatan Witaponda mencakup SMPN 1 Witaponda dan SDN Salonsa. Kecamatan Bahodopi meliputi SMPN 1 Bahodopi dan SDN Labota. Sementara Kecamatan Bungku Pesisir mencakup SMPN 1 Laveu dan SDN Tango.

Arnolis menjelaskan, pekerjaan pada 10 sekolah tersebut tidak seluruhnya berupa pembangunan gedung baru. Sebagian bangunan mendapatkan rehabilitasi sesuai kondisi dan kebutuhan masing-masing sekolah.

“Tidak semua bangun baru, ada juga yang rehab sebagian. Tetapi rehabnya akan menyesuaikan dengan yang dibangun baru untuk RKB,” jelasnya.

Menurut Arnolis, pembangunan ruang kelas baru (RKB) menggunakan konsep berdasarkan hasil perencanaan konsultan. Desain dan struktur bangunan disebut berbeda dengan pembangunan RKB pada program sebelumnya.

“Strukturnya beda. Konsepnya sudah hasil perencanaan konsultan. Intinya memang berbeda dengan RKB selama ini, baik desain maupun strukturnya,” ujarnya.

Selain ruang kelas, pekerjaan juga mencakup fasilitas pendukung seperti sanitasi, pagar, penataan lingkungan sekolah dan paving block pada sejumlah lokasi.

Dari sisi pelaksanaan, Arnolis menyebut progres pekerjaan di sejumlah sekolah rata-rata telah mencapai lebih dari 40 persen. Capaian tersebut menjadi salah satu persyaratan untuk pengajuan pembayaran termin berikutnya.

“Rata-rata progresnya sudah di atas 40 persen. Untuk termin kedua, fisiknya memang harus 40 persen ke atas,” katanya.

Batas waktu penyelesaian pekerjaan berbeda pada masing-masing sekolah. Sebagian ditargetkan selesai pada 5 Desember 2026, sedangkan sekolah lainnya ditargetkan rampung hingga 31 Desember 2026.

Salah satu sekolah yang mendapat bantuan lanjutan adalah SDN Labota di Kecamatan Bahodopi. Sekolah tersebut sebelumnya telah memperoleh bantuan pada 2025 dan kembali mendapatkan program pada tahun ini.

“SDN Labota ini bantuan tahap lanjutan. Tahun 2025 juga mendapat bantuan dan tahun ini dilanjutkan. Rekanannya juga sama,” ungkap Arnolis.

Sementara pengadaan mebeler akan disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing sekolah dan direncanakan dilakukan melalui katalog elektronik.

“Untuk mobiler tergantung berapa yang dibutuhkan. Rencananya kami lakukan melalui katalog,” katanya.

Arnolis menambahkan, kebutuhan mebeler cukup besar, terutama pada sekolah dengan jumlah peserta didik yang banyak. Karena itu, kualitas menjadi salah satu pertimbangan dalam pengadaan.

“Yang jelas kita akan lihat kualitasnya,” tegasnya.

Meski program tahun ini menyasar 10 sekolah, Arnolis mengakui kebutuhan sarana dan prasarana pendidikan di Morowali belum seluruhnya dapat dipenuhi melalui anggaran yang tersedia.

“Anggaran yang sekarang ini belum tuntas semua. Tergantung kita lihat yang urgent-urgent,” pungkasnya.

Dengan demikian, program DAU Rp110 miliar tersebut menjadi salah satu upaya pemerintah daerah meningkatkan kualitas sarana dan prasarana pendidikan melalui pembangunan dan rehabilitasi sekolah secara bertahap, dengan prioritas disesuaikan kondisi serta tingkat kebutuhan masing-masing satuan pendidikan.

Reporter : Agus
Penyunting : W13D
Kategori : Pendidikan
Sumber : Liputan