Target PAD Peternakan Sigi Digenjot, Tarif RPH Akan Dirasionalisasi

Reporter : Redaksi
Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Kabupaten Sigi, Ihsan S.Pt, saat memberikan keterangan di ruang kerjanya (foto : agus_beritaformat)

Pemerintah Kabupaten Sigi melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Keswan) fokus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor peternakan. Evaluasi penerimaan PAD dilakukan bersama dinas pendapatan, salah satunya dengan menyoroti keberlanjutan layanan Rumah Potong Hewan (RPH).

Kepala Dinas Peternakan dan Keswan Kabupaten Sigi, Ihsan S.Pt, menjelaskan bahwa Sigi memiliki tiga RPH, dua di Rumaniasa dan satu RPH Babi, yang saat ini tetap beroperasi. Namun Ia menilai perlunya rasionalisasi tarif pungutan.

Baca juga: Kejati Sulteng Setujui Restorative Justice Dua Perkara di Banggai

"Di Palu tarifnya Rp30 ribu per ekor, sedangkan di Sigi Rp55 ribu. Kami usulkan agar diturunkan setara dengan Palu, supaya pemotong yang selama ini ke Palu mau kembali memotong di Sigi," ujar Ihsan, Jumat (5/12/2025).

Ia menegaskan, pencapaian target PAD tidak hanya bertumpu pada Dinas Peternakan semata. Penertiban pemotongan hewan di luar RPH perlu dukungan lintas stakeholder seperti Satpol PP dan kepolisian, mengingat Perda telah mengatur bahwa pemotongan hewan wajib dilakukan di fasilitas RPH.

Terkait pasar hewan, Ihsan menyebut saat ini retribusi masih ditangani Disperindag. Namun pada pembahasan Perda baru, pasar ternak direncanakan dikembalikan ke Peternakan agar penarikan retribusi lebih efektif.

"Jika sudah kembali ke kami, petugas kesehatan hewan akan ditempatkan di titik pasar. Retribusi ternak masuk akan ditertibkan, termasuk parkir dan lapak," jelasnya.

Baca juga: Kades Malalan Klarifikasi Keterlambatan BLT Tahap I 2026, Penyaluran Tuntas ke 8 KPM

Selain memaksimalkan pasar ternak, Dinas Peternakan juga tengah menyiapkan program revitalisasi Tandau sebagai salah satu sumber PAD baru. Penguatan layanan kesehatan hewan turut menjadi prioritas melalui pengembangan UPT Puskeswan, termasuk rencana pengadaan laboran dan pelatihan teknis.

"Jika ada anggaran, kita kirim petugas pelatihan ke Balai Besar Inseminasi Buatan Singosari. Kalau sudah ada laboran dan peralatan, laboratorium bisa jadi sumber PAD, terutama dari uji sampel ayam dan hewan potong," bebernya.

Ihsan menutup bahwa kabupaten harus menuju daerah aman pangan, baik nabati maupun hewani, melalui pemeriksaan fisik dan laboratorium.

Baca juga: Mayat Pria Misterius Ditemukan di Gang Pasar Masomba, Polisi Selidiki Identitas Korban

"Aman pangan itu kunci. Pemeriksaan laboratorium penting untuk memastikan daging layak konsumsi," tegasnya.

Upaya rasionalisasi tarif RPH, revitalisasi pasar ternak hingga rencana laboratorium kesehatan hewan menjadi strategi Keswan Sigi untuk mendorong PAD sekaligus menjamin keamanan pangan hewani di daerah.

Reporter: Agus
Editor: W13D
Kategori: Ekonomi
Lokasi: Sigi, Sulawesi Tengah
Sumber: Wawancara

Editor : Redaksi

Politik
Berita Terpopuler
Berita Terbaru